PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT DALAM ISLAM

20 12 2012

A. Asal-usul Pemikiran Filsafat

Didalam memahami ajaran agama Islam, setiap muslim amat tergantung pada kemampuan para ulama dalam menggali dan menarik kesimpulah hulum-hukum Islam dari sumbernya Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dalam perkembangannya pemikiran Islam tidak saja hanya berkisar tentang hukum-hukum Islam, akan tetapi sudah berkembang sampai dengan Teologi, dan Filsafat. Bahkan dewasa ini sudah berkembang sampai dengan pemikiran Liberalis.

Lahirnya filsafat dunia islam memang tidak dapat dipisahkan dari tradisi ilmi kalam yang mendahuluinya. Sebelumnya, para mutakallimin telah menggunakan matiq (logika) dalam tradisi kalam mereka, baik untuk membantah maupun menyusun argumentasi. Dalam hal ini, bukti yang paling akurat dapat dilacak dalam kitab al-fiqh al-aqbar, karya abu Hanifah (W. 147 H / 768 M).[1] selain menggunakan mantiq, beliau juga menggunakan istilah filsafat, seperti Jauhar (Substansi) dan Aradh (aksiden), yang notabene banyak digunakan oleh Aristoteles dalam buku-bukunya.

Ini membuktikan, bahwa mantiq sebagai tehnik pengambilan kongklusi (kesimpulan) telah digunakan oleh ulama’ kaum muslim pada abad ke-II H / VII M hanya saja, ini tidak secara otomatis menunjukkan bahwa filsafat telah dikaji secara mendalam pada masa itu. Bukti diatas hanya membuktikan pemanfaatan logika mantiq dalam menghasilkan kongklusi.kesimpulan ini juga tidak dapat digunakan untuk menarik kongklusiyang lebih luas mengenai kemungkinan logika telah dipelajari secara mendalam oleh para mutakallimin, sebagaimana logika yang diuraikan oleh ibnu sina.[2]

Disamping itu, penyebaran filsafat ini semangkit meningkat khususnya sejak al-Makmun, murid abu Hudhail al-Allaf, tokoh muktazilah Baghdad, yang mendirikan baitul Hikmah tahun 217 H/813 M, sebuah pusat kajian filsafat yang dipimpin oleh Yuhana bin Masawih. Dikota ini juga Al-Kindi (w. 260 H/873).

B. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN ISLAM

Perkembangan pemikiran dalam Islam, dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu : (1) Pemikiran Ahl Fiqh, (2) Pemikiran Teologi  Islam, (3) Pemikiran Filsafat Islam.

1. PERKEMBANGAN CORAK FIKR AHL FIQH

Perkembangan fiqh dimulai sejak zaman Rasulullah saw masih hidup, pada masa ini tidak ada masalah yang berarti dimana hal tersebur dikarenakan Nabi saw langsung menjasi pembuat fiqh dan melakukan ijtihad sendiri. Pada masa Sahabat perkembangan fiqh terbagi menjadi dua, yaitu : kelompok alh an-Nash (seperti abuu huraurah & Anas), dan ahl al-Rayi (seperti Umar bin Khattab as). Setelah berakhirnya kepemimpinan Ali bin Abi tholib perkembangan fiqh dinamakan Fiqh Tabi’in, yang mana pada masa ini fiqh terbagi menjadi dua kelompok, yaitu : Ahl an-Nash (para Fuqoha’ al-Saba’ah / Madinah), dan Ahl al-Ra’yi (Fuqoha’ al-Shittah / Kuffah). Lebih lanjut berikut perkembangan fiqh serta corak yang mempengaruhinya :

a.      Manhaj al-Fikr Fikih Ahl al-Madinah

Corak pemikiran banyak dipengaruhi oleh kebuadayaan syiria dan kekuasaan Umayyah. Tokoh-tokohnya antara lain : al-Awza’i. Sedang sifat pemikiran fikiq ahl al-madinah adalah  thesa atau dalam arti bahwa fikih ahl al-madinah masih murni yang bersumberkan dari Al-Qur’an dan Hadits.

b.      Manhaj al-Fikr Fikih Asy-Syafi’i

Corak pemikirannya lebih banyak dipengaruhi (didominasi) al-Qur’an dan As-Sunnah. Toko-tokohnya antara lain : Asy-Syafi’i, Ibn Hambali, dan Malik Ibn Abbas / Dawud Ibn Khalaf (keduanya cenderung juga kepemikiran Fikih al-Madinah). Sedang sifat pemikiran fikiq Asy-Syafi’i adalah  anti-thesa. Ini berarti juga bahwa pemikiran ahl asy-Syafi’i sudah mengarah pada penggabungan antara fikih ahl al-madinah (murni) dengan fikih ahl al-Iraq (yang sudah menggunakan rasional).

c.       Manhaj al-Fikr Fikih Ahl al-Iraq

Corak Pemikiran yang digunakan adalah dengan menggunakan analogi dan dipengaruhi oleh kekuasaan Abbasyiyah. Tokoh-tokohnya antara lain : Abu Hanifah, Asy-Syaibani (cendrung juga ke pemikiran As-Syafi’i). Sedang sifat pemikiran fikiq ahl al-Iraq adalah  sinthesa. Pemiiran ahl al-Iraq sudah mengarah kepada penggunaan akal secara berlebihan walau tidak mengenyampingkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

2. PERKEMBANGAN GOLONGAN TEOLOGI ISLAM

Tumbuh dan berkembangnya golongan-golongan teologi Islam, muncul setelah peran kepemimpinan (Kekhalifahan) dalam Islam pindah dari Rasullah saw ke para Sahabat (Khulafaur Rasyidin). Dan pembembangannya semakin bertambah besar setelah terbunuhnya Ali bin Abi Tholib dan pindahnya kepemimpinan kepada Muawiyyah (yang menerapkan sistem kepemimpinan dengan model monarkhi/kerajaan)

Theologi merupakan usaha pemahaman yang dilakukan para ulama’ (teolog muslim) tentang akidah Islam yang terkandung dalam naqli (al-Qur’an dan As-Sunnah). Tujuan usaha pemahaman tersebut adalah menetapkan, menjelaskan atau membela akidah Islam, serta menolak akidah yang salah dan atau bertentangan dengan akidah Islam. Dengan demikian fungsi Teologi adalah bertugas menjelaskan dan memberikan pemahaman terhadap kebenaran parrenial Islam dengan bahasa Kontekstual.

Adapun aliran-aliran Teologi Islam dapat dijabarkan antara lain sebagai beikurt :

a.      Golongan Khowarij (Teologi Eksklusif)

Khowarij ini muncul setelah perang siffin antara Ali dan Mu’awiyyah. Inti dari pokok pikirannya adalah : (1) Bahwa, Ali, Usman dan orang-orang yang turut dalam peperangan Jamal, dan orang-orang yang setuju adanya perundingan antara Ali dan Mu’awiyyah, semua dihukumkan orang-orang “Kafir”, (2) Bahwa, setiap umat Muhammad yang terus-menerus membuat dosa besar, hingga matinya belum taubat, orang itu dihukumkan kafir dan akan kekal di neraka, dan (3) Bahwa, boleh keluar dan tidak mematuhi aturan-aturan kepala negara, bila ternyata kepala negara itu seorang yang zalim atau khianat.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa teologi golongan khowarij bahwa orang yang berdosa besar dicap sebagai orang kafir, lawan dari orang kafir adalah orang yang beriman, orang yang beriman wajib berijtihad memerangi orang kafir, karena orang kafir halal darahnya. (yang disebutkan orang kafir disini adalah sebagaimana disebutkan diatas).

b.      Golongan Murji’ah (Teologi Inklusif)

Aliran ini timbul di Damaskus pada akhir abad pertama Hijrah. Aliran ini berpendapat bahwa, orang-orang yang sudah mukmin yang berbuat dosa besar, hingga matinya tidak juga taubat, orang itu belum dapat dihukum sekarang. Terserah atau ditunda serta dikembalikan saja urusannya kepada Allah kelak setelah hari kiamat. Pendapat ini adalah kebalikan dari faham Khawarij. Selain itu faham ini berpendapat bahwa “Tidak akan memberi bekas dan memudaratkan perbuatan maksiat itu terhadap keimanan.Demikian pula sebaliknya, Tidaklah akan memberi manfa’at dan memberi faedah ketaatan seseorang, terhadap kekafirannya” (artinya : tidaklah akan berguna dan tidaklah akan memberi pahala perbuatan baik yang dilakukan oleh orang yang telah kafir).

c.       Golongan Khowarij (Teologi Rasional)

Tokohnya adalah Abu Huzdaifah washil bin ‘Atha Al-Ghazali. Aliran ini berpendapat bahwa, manusia adalah merdeka dalam segala perbuatan dan bebas bertindak. Sebab itu mereka diazab atas perbuatan dan tindakannya. Tentang ketauhidan, mereka “menafikan” dan meniadakan sifat-sifat Allah. Artinya Tuhan itu ada bersifat. Karena seandainya bersifat yang macam-macam, niscaya Allah Ta’ala berbilang (lebih dari satu). Inilah yang dimaksud mereka Ahli Tauhid, menafikan sifat-sifat Allah.

d.      Golongan Asy’ariyah

Golongan ini muncul pada abad ke 11, yang berkembang di Baghdad dengan salah satu tokohnya adalah : Hakim al-Baqailani dan al-Juwaini. Pokok pemikirannya cenderung pada pemikiran Rasional, hampir sama dengan pemikiran golongan Mu’tazilah.

3. PERKEMBANGAN PEMIKIRAN FILSAFAT ISLAM (TOKOH-TOKOH FILSAFAT ISLAM)

a.      Pemikiran Filsafat Al-Ghazali / 1050-1111 M (Tahafutut al-Falasifah), Pokok pemikiran dari al-Ghozali adalah tentang Tahafutu al-falasifah (kerancuan berfilsafat) dimana al-Ghazali menyerang para filosof-filosof Islam berkenaan dengan kerancuan berfikir mereka. Tiga diantaranya, menutur al-Ghazali menyebabkan mereka telah kufur, yaitu tentang : Qadimnya Alam, Pengetahuan Tuhan, dan Kebangkitan jasmani.

b.      Pemikiran Filsafat Ibn Rusyd 520 H/1134 M (Teori Kebenaran Ganda), Salah satu Pemikiran Ibn Rusyd adalah ia membela para filosof dan pemikiran mereka dan mendudukkan masalah-masalah tersebut pada porsinya dari seranga al-Ghazali.Untuk itu ia menulis sanggahan berjudul Tahafut al-Tahafut. Dalam buku ini Ibn Rusyd menjelaskan bahwa sebenarnya al-Ghazalilah yang kacau dalam berfikirnya.

c.       Pemikiran Filsafat Suhrawardi / 1158-1191 M (Isyraqiyah / Illuminatif), Pokok pemikiran Suhrawardi adalah tentang teori emanasi, ia berpendapat bahwa sumber dari segala sesuatu adalah Nuur An-Nuur (Al-Haq) yaitu Tuhan itu sendiri. Yang kemudian memancar menjadi Nuur al-Awwal, kemudian memancar lagi mejadi Nuur kedua, dan seterusnya hingga yang paling bawah (Nur yang semakin tipis) memancar menjadi Alam (karena semakin gelap suatu benda maka ia semakin padat).

Pendapatnya yang kedua adalah bahwa sumber dari Ilmu dan atau kebenaran adalah Allah, alam dan Wahyu bisa dijadikan sebagai perantara (ilmu) oleh manusia untuk mengetahui keberadaan Allah. Sehingga keduanya, antara Alam dan Wahyu adalah sama-sama sebagai ilmu.

d.      Pemikiran Filsafat Islam Lainnya, Disanping ketiga tokoh pemikir filsafat Islam tersebut diatas, berikut tokoh-tokoh pemikir filsafat Islam lainnya, antara lain :

1)      Al-Kindi (806-873 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : Relevansi agama dan filsafat, fisika dan metafisika (hakekat Tuhan bukti adanya Tuhan dan sifat-sifatNya), Roh (Jiwa), dan Kenabian.

2)      Abu Bakar Ar-Razi (865-925 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : Akal dan agama (penolakan terhadap kenabian dan wahyu), prinsip lima yang abadi, dan hubungan jiwa dan materi.

3)      Al-Farabi (870-950 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : kesatuan filsafat, metafisika (hakekat Tuhan), teori emanasi, teori edea, Utopia jiwa (akal), dan teori kenabian.

4)      Ibnu Maskawih (932-1020 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : filsafat akhlaq, dam filsafat jiwa.

5)      Ibnu Shina (980-1036 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : fisika dan metafisika, filsafat emanasi, filsafat jiwa (akal), dan teori kenabian.

6)      Ibnu Bajjah (1082-1138 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : metafisika, teori pengetahuan, filsafat akhlaq, dan Tadbir al-mutawahhid (mengatur hidup secara sendiri).

7)      Ibnu Taufal (1082-1138 M)

Pemikiran filsafatnya berikisar tentang masalah : percikan filsafat, dan kisah hay bin yaqadhan.


[1] Abu Hanifah, Matan al-Fiqh al-akbar, hal. 323.

[2] Ibnu Sina, Risalah fi aqsam al-ulum al-aqliyah, hal. 271.

Iklan




BENTUK PAYUDARA DAN SIFAT WANITA

29 07 2012

Payudara (Latin: mamma) adalah organ tubuh bagian atas dada dari spesies mamalia berjenis kelamin betina, termasuk manusia.

Sebuah penelitian unik dilakukan oleh seksolog asal Italia, Piero Lorenzoni. Menurutnya bentuk payudara perempuan dapat menentukan kepribadiannya. Piero seperti dikutip detikhot dari Ananova.com mengkategorikan kepribadian perempuan menurut bentuk payudaranya. Berikut kategorinya.

Bentuk Payudara Melon
Biasanya perempuan dengan bentuk payudara menyerupai buah melon memiliki kepribadian yang keibuan. Dia juga senang jika dikagumi dan bijaksana.

Bentuk Payudara Oval
Perempuan dengan bentuk payudara oval menyerupai nanas biasanya pintar. Mereka tipe wanita karir namun sangat romantis. Perempuan-perempuan ini juga setia, siapa yang bisa memenangkan hati mereka,biasanya akan menjalani hubungan yang serius.

Bentuk Payudara Grapefruit (Jeruk Bali)
Bentuk Payudara seperti jeruk bali mencirikan wanita pemalu. Namun ketika berhadapan dengan pasangannya ia berubah menjadi wanita yang erotis dan mampu memuaskan.

Bentuk Payudara Kecil
Mereka yang memiliki payudara kecil biasanya berkepribadian lucu. Mereka bisa menghibur orang di sekitarnya dan sangat pintar. Mereka dapat membuat pasangannya merasa bahagia setiap saat.

Bentuk Payudara Pear.
Bentuk payudara seperti buah pear mencirikan pribadi perempuan yang penuh cinta. Dia bisa menjadi sangat religius, tapi disisi lain, perempuan tipe ini juga tahu saat yang tepat untuk berselingkuh.

 

Peranan seksual
Payudara memegang peranan penting dalam kebiasaan seksual manusia. Payudara merupakan salah satu karakteristik seks sekunder dan memegang peranan penting dalam daya tarik seksual pada partnernya, dan kesenangan individual. Payudara juga merupakan bagian tubuh wanita yang paling lama dilihat oleh lawan jenisnya. Bahkan bagi pria melihat payudara beberapa kali sehari dapat memperpanjang umur.

Payudara juga merupakan bagian tubuh wanita yang membuat pria tergoda dan merupakan daya tarik seksual seorang wanita. Bila wanita memiliki payudara seksi dan indah, tentunya mereka akan bangga. Payudara juga menjadi daya tarik seksual laki-laki yang melihat bentuknya (sex appeal). Maka, penting sekali untuk merawat keindahan payudara. Salah satu cara untuk merawat keindahan payudara adalah dengan mengenakan beha.

Payudara yang indah dan terawat sangat berperan dalam menjaga durasi dalam berhubungan intim, dikarenakan payudara itu sendiri memiliki daya tarik yang sangat tinggi. apalagi pada payudara yang padat, bulat, dan tegak mengacung, ini merupakan idaman partner dalam berhubungan intim selain vagina yang legit dan sempit. Perawatan payudara yang instan ialah dengan cara meminta agar partner seks anda untuk membelai dan meremasnya dengan cara perlahan dan lembut, cara ini jangan terlalu dipaksakan, karena akan mengakibatkan kekenduran pada payudara.

Fungsi lain
Para ahli menyatakan bahwa tidak ada payudara pada makhluk hidup lain yang berjenis kelamin betina selain pada manusia yang memiliki besar yang bervariasi, relatif terhadap seluruh bagian tubuh, ketika tidak menyusui manusia adalah satu-satunya primata yang memiliki payudara yang menggelembung setiap saat. Hal ini mengindikasikan bahwa bentuk luar dari payudara terhubung dengan faktor-faktor lain selain menyusui.

Sebuah teori didasarkan pada sebuah fakta bahwa tidak seperti hampir semua primata, manusia yang berjenis kelamin perempuan tidak memberikan pandangan fisik yang jelas atas terjadinya ovulasi. Ini dapat berakibat secara perlahan pada manusia yang berjenis kelamin pria untuk berevolusi demi merespon tanda-tanda yang lebih jelas terhadap adanya ovulasi. Selain itu payudara yang besar juga dapat sebagai alat bantu masturbasi pria, ini menimbulkan sensasi yang sangat luar biasa, baik itu penis pria itu ataupun wanita itu sendiri.

Ukuran payudara
Bra berfungsi untuk menyangga dan merawat payudara.

Banyak wanita mengidamkan payudara yang indah dan besar. Karena itu tidak sedikit wanita yang ingin memperbesar atau mengencangakan payudaranya baik dengan cara alami maupun yg instan.

Tetapi, ada beberapa keuntungan dari payudara berukuran kecil yaitu:
Bebas berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya tanpa mengkhawatirkan guncangan-guncangan yang terasa tidak nyaman di bagian torso maupun pada bra.
Tidak akan khawatir payudara akan menurun dan mengendur, bahkan setelah memiliki anak.
Tidak risih ketika harus berdesakan dengan orang-orang lain di dalam bus kota atau kereta api dalam kota. Risiko bersinggungan dengan tubuh orang lain pun dapat diminimimalisir.
Tidak mengalami sakit punggung karena menahan payudara yang berat. Dan bebas dari rasa sakit akibat tali bra yang mengikat punggung dan pundak.
Bisa tidur telungkup tanpa merasakan ketidaknyamanan di bagian dada. Ketika berbalik untuk kembali telentang, kedua payudara akan kembali ke tempat di mana seharusnya, dan bukannya “terjatuh” ke samping kiri dan kanan.
Tidak akan mengalami kesulitan mencari pakaian atasan yang pas, karena bagian dada bisa dikancingkan dengan mudah.
Tidak perlu sering-sering memakai bra. Ini bisa mengurangi rasa sakit akibat kawat pada bra yang berfungsi menyangga payudara. Bahkan mungkin tidak memerlukan bra yang menggunakan kawat.
Tidak semua pria menyukai wanita dengan payudara besar. Pria kebanyakan akan menyukai payudara yang berukuran sedang, namun bagi wanita yang payudaranya berukuran mini pun tak perlu khawatir.
Terhindar dari tatapan nakal para pria yang dijumpai di masyarakat luar. Jadi, ketika berbicara dengan rekan sekantor atau klien, pria akan langsung menatap mata, bukan bagian tubuh yang lain.
Mudah dalam mendeteksi kanker payudara karena benjolan akan langsung dapat terasa. Karena sel kanker tidak “terkubur” di dalam lemak payudara.

Beberapa faktor yang menyebabkan perubahan pada bentuk payudara beserta solusinya, yakni:[1][2]
Usia Ligament cooper (urat yang mempertahankan bentuk payudara) pasti akan melemah seiring dengan bertambahnya usia. Sebagian besar payudara terdiri dari lemak, kelenjar, dan saluran akan mengendur. Karena payudara adalah organ yang sangat dinamis dan elastis dari tubuh manusia. Melakukan pijat secara teratur bisa mencegah pengenduran payudara. Hal ini karena pijat memiliki kemampuan untuk merangsang aliran darah ke daerah tersebut, sehingga membuat payudara tetap kencang.
Kehamilan Selama dalam masa hamil ada beberapa perubahan dalam ukuran payudara dan sebagian besar perubahan ini menjadi permanen. Payudara akan naik dan menunjukkan pembesaran ukuran karena tubuh berpersia-siap agar ibu dapat menyusui bayinya setelah lahir.
Menstruasi Ukuran payudara akan sedikit mengalami perubahan selama siklus menstruasi. Perubahan ukuran dari payudara ini biasanya disertai dengan perubahan bentuk puting dan terkadang ada benjolan di sekitar payudara. Perubahan ini disebabakan oleh hormon progesteron.
Keturunan Faktor keturunan memainkan peranan cukup besar dalam menentukan ukuran payudara. Biasanya hal ini ditentukan dari ukuran payudara sang ibu. Tapi tidak semua anak memiliki ukuran payudara yang sama dengan ibunya, karena faktor lain juga turut mempengaruhi termasuk dari genetika ayah.
Olahraga Olahraga dapat mempengaruhi ukuran payudara. Salah satunya adalah bentuk latihan yang bekerja langsung terhadap otot dada yang mendasari jaringan payudara, dan membantu mengencangkan payudara. Selain itu yoga dan terapi Ayurvedic juga mempengaruhi ukuran payudara. Dengan melakukan beberapa olahraga untuk payudara, maka otot dada akan dibangun sehingga membuat payudara terlihat lebih membusung dan naik. Olahraga yang bisa dilakukan untuk membuat payudara tetap sehat adalah jogging, berenang, tenis, bersepeda dan juga memanjat. Selain itu, push up yang masing-masing dilakukan dengan barbel, bangku atau mesin juga bisa menguatkan otot dada.
Makanan Beberapa makanan mengandung zat tertentu yang dapat meningkatkan ukuran payudara. Sebut saja kedelai, ginseng, akar dandelion, dan semua biji-bijian. Karenanya, beberapa wanita yang sering mengonsumsi makanan ini kemungkinan memiliki payudara yang lebih besar.
Bra Menggunakan bra yang sesuai dapat memberikan dukungan yang tepat untuk payudara. Bra dengan ukuran pas harus bergerak sesuai dengan gerakan pemakai tanpa ada tali yang terlepas. Jika sejak muda sudah menggunakan bra yang tepat, maka payudara akan tumbuh dengan baik. Selain menopang payudara, terdapat juga bra yang berfungsi sebagai pengencang dan pembesar payudara.
Rokok Selain membahayakan kesehatan secara keseluruhan, nikotin yang terdapat dalam rokok juga dapat mempercepat proses penuaan dan merusak elastisitas kulit. Tak hanya kulit wajah saja, tetapi nikotin juga dapat mengendurkan kulit pada payudara.

ALASAN PRIA SUKA PAYUDARA

Keseksian wanita selalu menarik perhatian pria. Tidak saja dari bentuk tubuh semata, tapi juga keberadaan aset wanita yang membuat mereka tergila-gila.

Payudara menjadi aset terbaik wanita untuk ditonjolkan. Pria pun sangat menyukai bagian yang satu ini saat bersama dengan pasangannya. Melihat bagian ini, pria pun tak sabar untuk segera menjelajahi lebih dalam keberadaannya.

Jika anak-anak begitu menyukainya karena terasa lembut seperti bantal, lantas apa alasan pria dewasa tergila-gila melihat sepasang payudara? Sebagian besar wanita sering dibuat bertanya-tanya dengan hal ini. Mengapa pria begitu terobsesi dengan payudara hingga tak jarang banyak pria menjadikan wanita berpayudara besar dan seksi sebagai wallpaper gadget mereka. Untuk mengetahuinya, Lovepanky memberikan ulasannya.

Ini menyoal pandangan
Keberadaan payudara bagi pria yang belum menikah tentu tak dapat dinikmati secara bebas. Lokasinya yang tersembunyi membuat mereka terbatas dalam melihatnya seperti keinginannya. Pria hanya bisa melihat payudara seperti yang mereka inginkan melalui internet. Hal itulah yang membuat mereka begitu tertarik.

Selain itu, alasan pria menyukai payudara yakni dikarenakan payudara merupakan pembeda dari pria dan wanita, keberadaan pinggul yang lebih lebar.

Payudara menciptakan kemisteriusan bagi pria
Saat pria melihat payudara wanita, dia memperhatikan bentuknya di mana tercetak dalam t-shirt yang dikenakan wanita tersebut yang selalu tampak sempurna dari luar. Dari sana, pria pun terangsang pikirannya dan membuatnya memvisualisasikan payudara terbaik dalam imajinasinya.

Hal inilah yang membuat mereka menjadi berpikir misterius dalam benaknya. Pria seperti menciptakan permainan mini dengan deretan pertanyaan seputar buah dada. Misalnya, “Bisakah pemilik payudara besar tampil menarik di ranjang?” “Dapatkah saya mengintip putingnya melalui balik kemeja?” “Apakah dia menggunakan push up bra agar payudaranya terlihat besar?” dan berbagai pertanyaan lainnya.

Payudara memerlihatkan keseksian wanita
Bentuknya yang terlihat begitu indah membuat wanita terlihat seksi dengan sepasang payudaranya. Apalagi, pria tidak memiliki payudara yang dapat membuatnya tampak lebih menarik. Tak heran, pria pun begitu mengagumi keberadaan payudara dan selalu dibuat kagum, bahkan penasaran dengan payudara serta ingin segera menyentuhnya dan merasakan kelembutannya.

Pria menyukai kelembutan payudara
Tidak peduli seberapa sering pria mencukupr bulu dadanya, namun dia tak pernah merasakan selembut payudara wanita. Mungkin hal inilah yang kemudian membuat mereka tergila-gila dengan kelembutan payudara. Seorang pria bisa menghabiskan waktunya sepanjang hari untuk membelai payudara pasangannya dengan tangannya. Dan, setiap kali jari-jarinya melewati jarak di antara payudara, dia selalu menginginkan untuk mengeksplorasinya lebih.





LESMOTAN

27 04 2012

Ciuman selalu menjadi pengalaman unik yang tak terlupakan bagi mereka yang tengah dilanda cinta. Bila Anda siap untuk melancarkan French kiss (ciuman dengan permainan lidah) pada pasangan, ada Tips Ciuman dengan Permainan Lidah yang wajib Anda perhatikan.
Saat melayangkan ciuman penuh kemesraan, mulailah mengambil posisi nyaman, berada di hadapan pasangan dengan kepala dimiringkan sedikit untuk menghindari terjadinya “tabrakan hidung”. Demikian saran dari Datingtips,
Pada babak ini, kaum adam bisa membungkus tubuh pasangan dengan melingkarkan kedua tangan mereka di pinggang, sedangkan sang wanita bisa meluapkan rasa sayangnya dengan menempatkan kedua tangan mereka di sekitar leher pasangan.
Ciptakan eye contact saat kalian berhadapan satu sama lain, namun tutuplah kedua mata saat bibir kalian bertemu. Terjadinya kontak mata di pertengahan ciuman tanpa disengaja, nyatanya bisa membuat kalian berdua merasa sangat canggung.
Ketika Anda tengah terlena dalam sebuah ciuman dahsyat, biarkan bibir Anda terbuka sedikit dan Anda bisa menarik napas melalui mulut Anda untuk menghindari terjadinya kesulitan bernafas saat tengah berciuman. Biarkan bibir kalian saling menyikat satu sama lain.
Sebagai permulaan, ciuman hangat perlu diberikan pada pasangan, setelah itu biarkan lidah Anda sedikit menggoda bibir pasangan. Jangan biarkan lidah Anda diam saja, bergeraklah cepat, namun tetap lembut.
Jika pasangan Anda merespons dengan baik, maka Anda pun perlu kembali mengejutkan lidahnya dengan gerakan cepat. Namun, tetaplah menjaga agar gerakan lidah Anda tetap ringan dan lembut.
Ingat, nafas segar sangat penting dalam melancarkan sebuah French kiss. Untuk itu, singkirkan makanan berbau seperti bawang putih, brie cheese, keripik dan jagung sebelum Anda melempar ciuman pada pasangan. Tapi segarkan mulut Anda dengan permen mint dan pastikan nafas Anda segar tanpa bau.





HASRAT

18 04 2012

Kebanyakan para pria tak merasa malu membiarkan teman wanitanya tahu kapan mereka menginginkan diri Anda.

Jadi, sebaiknya wanita mulai belajar membaca kode-kode yang diberikan pria. Berikut ini beberapa sinyal yang menandakan bahwa pria menginginkan diri Anda di ranjang, seperti yang telah dilansir melalui Cosmopolitan, Rabu (14/3).

  1. Pupil matanya membesar, membuat bola hitam pada mata membesar. Ini bisa jadi sinyal kuat kalau terjadi lonjakan gairah seks pada pria.
  2. Mengaitkan jempolnya ke lubang sabuk celananya, Tanda ini menjadi dilakukannya untuk memberikan kode untuk bercinta.
  3. Dia menyentuh hidungnya berulang kali. Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Royal Society of Medicine menunjukkan bahwa saraf di hidung seorang pria jaringan ereksinya saling berhubungan. Kecuali, jika dia sedang sakit flu atau pilek.
  4. Bicara dengan suara lebih lembut dari biasanya, Penelitian di tahun 2010 menunjukkan bahwa pria secara refleks menurunkan nada suaranya yang bisa menjadi sinyal bahwa terjadi peningkatan keinginan untuk bercinta.
  5. Dia menyentuh bahu Anda, Menggosok atau mengusap tangannya ke bahu Anda biasanya menunjukkan dia menginginkan Anda.
  6. Memeluk dan meletakkan tangannya di bawah pinggang Anda, Jika dia tiba-tiba memeluk erat Anda dan memegang bokong Anda, mungkin itu menjadi tanda bagi Anda bahwa dia menginginkan yang lebih dari sebuah pelukan.
  7. Menggigit bibir bawahnya dan menggoyangkan kepalanya, Pria yang melakukan hal itu saat berbicara didepan pasangannya mungkin sedang gelisah karena menginginkan Anda segera.

 

Menggoda bisa menjadi satu hal menyenangkan, tidak perduli status Anda single atau sedang berkomitmen. Tapi bagi Anda kaum pria, tahukah Anda seperti apa bahasa tubuh wanita saat ingin merayu Anda?. Jika Anda ingin mengetahui apakah wanita sedang ingin menggoda atau tidak lewat bahasa tubuhnya, perhatikan beberapa hal berikut ini:

  1. Perhatikan gerakan tubuh, Gerakan tubuh sangat jelas menunjukkan jika wanita menggoda atau tidak. Jika dia datang mendekat kepada Anda, artinya dia mencoba menarik perhatian Anda.
  2. Amati tangannya, Ketika seorang wanita ingin menggoda, dia akan selalu memainkan rambut dengan tangannya. Jika Anda menatapnya dan dia sedang sibuk mengobrol dengan teman-temannya, perhatikan ekspresi dan gerakan tangannya.
  3. Mata, Jelas, ketika dia tertarik pada Anda, dia akan melihat Anda. Kontak mata adalah tanda yang paling jelas untuk mengetahui kalau wanita sedang menggoda Anda. Jika dia melihat Anda dan mencoba menarik perhatian dengan mendekat, maka siap-siaplah.
  4. Bibir, Umumnya, ketika seorang wanita menggoda, dia akan melihat Anda dan tersenyum. Bibirnya dapat digunakan dalam berbagai cara, mulai dari tersenyum, cemberut hingga senyum sensual.
  5. Kaki, Jika wanita mengayunkan kakinya sambil melirik kepada Anda, itu artinya dia sedang berusaha menggoda.

 

10 Kiat Sukses Berkencan Bagi Para Wanita

Butuh saran agar bisa sukses berkencan? Kami menghadirkan beberapa kiat sukses dalam berkencan, meliputi apa yang perlu Anda pakai, apa yang perlu Anda lakukan, hingga apa yang perlu Anda katakan ketika kencan.

  1. Pakai baju merah, Saat Anda mencoba mencari baju di lemari pakaian, pastikan itu bukan sekadar untuk menutupi diri, namun juga menunjukkan pada pasangan bahwa Anda benar-benar seorang wanita yang pintar dan seksi. Bagi para pria, warna merah merupakan simbol dari keseksian dan romansa. Para peneliti berdebat, mengapa para pria lebih sering melihat warna merah sinonim dengan hasrat, namun berdasarkan penelitian, seorang wanita berbaju merah akan terlihat lebih menarik.
  2. Perluas wawasan, Kita semua pasti tahu bahwa para pria, memiliki sedikit waktu untuk mengobrol. Mereka tidak ingin terlibat pembicaraan mengenai teman-teman Anda, kucing Anda, atau gosip tentang seorang wanita yang melahirkan. Untuk memulai obrolan saat berkencan, bacalah surat kabar, tontonlah berita, dan ikuti berita-berita hiburan. Lalu obrolkan sebuah acara baru, sebuah band baru, atau sebuah film panas. Dengan begitu, Anda akan terlibat dalam percakapan yang asyik.
  3. Hindari hal negatif, Supaya sukses berpacaran, Anda harus melupakan masa lalu dan menjadi seseorang yang berani. Jika salah seorang teman Anda menyebalkan, atau Anda punya masa lalu yang buruk dengan pasangan sebelumnya, cobalah menghindari mereka. Anda perlu berpikiran positif saat memulai sebuah hubungan baru, dan ingatlah bahwa pria yang baru ini bukanlah sang mantan.
  4. Rasio pinggang dan pinggul, Cantik adalah impian semua orang, kita semua bahkan rela mengahbiskan banyak waktu untuk bisa menjadi cantik. Namun, pernahkah Anda mengambil kalkulator dan mencoba membuat rasio daya tarik Anda? Jika belum, maka jangan khawatir, karena kami telah membuatkannya untuk anda. Mereka menemukan bahwa, para pria lebih memilih wanita dengan rasio pinggang terhadap pinggul, sebesar 0,7. Untuk menghitungnya, mudah saja. Ukuran pinggang dibagi ukuran pinggul, itulah dia rasionya. Jika Anda tidak mencapai angka 0,7 maka belilah sebuah ikat pinggang.
  5. Pujilah dia, Memang benar bahwa kita semua menyukai pujian, namun kenyataannya adalah, para pria sangat menyukai pujian. Hindari komentar-komentar membosankan seperti: “Kamu terlihat tampan” atau “Kamu sangat lucu.” Para pria sudah sering mendengarnya, dan itu tidak akan mempengaruhi ego mereka. Bersikaplah lebih tenang, dan katakan padanya, Anda berpikir bahwa dia pasti keren jika naik tebing, atau tampil di atas panggung. Atau setelah dia menceritakan pada Anda, mengenai suatu hal tentang dirinya, katakan padanya bahwa Anda terkesan.
  6. Buat rambut nampak tebal, Para pria senang dengan rambut tebal, karena itu memberikan sinyal bahwa Anda subur. Jika Anda tidak memiliki rambut yang tebal secara alami, gunakanlah trik-trik ini untuk tampil mengesankan. Bila rambut anda lembap hingga ke akar, maka putar rambut Anda ke atas, dan blow ke atas. Lalu anda harus meluruskannya, dari bagian tengah, hingga ke ujung rambut Anda. Jika senang cara yang instan, maka pilihlah ekstensi rambut. Anda bisa memilih rambut sintetis atau rambut asli.
  7. Berbisiklah di telinga kanannya, Bar atau klub malam mungkin tidak seperti akhir yang luar biasa dalam sebuah acara kencan. Jadilah bagian dari keramaian dan kebisingan tersebut, lalu dekati dia, dan kemudian berbisiklah di telinga kanannya. Para peneliti menemukan, para pria akan mudah luluh kepada teman wanitanya, jika wanita itu memintanya melakukan sesuatu dengan berbisik di telinga kanan.
  8. Godalah dia, Kesuksesan sebuah kencan tergantung pada akhir malam. Pertama, pastikan bibir Anda dalam kondisi baik. Sikatlah gigi dan gunakan pelembap bibir secara teratur. Kedua, saat kencan Anda mulai memanas, pertahankan kontak mata, dan berilah ia senyum nakal.
  9. Tertawalah, Salah satu tips terpenting yang sering dilupakan dalam berkencan adalah, tertawa saat terjadi suatu kesalahan atau kekeliruan. Berkencan adalah sesuatu yang cukup memberi tekanan tinggi. Jadi wajar, jika sering kali terjadi kekeliruan atau hal-hal yang salah di dalamnya. Bisa jadi Anda menumpahkan minuman, menjatuhkan sesuatu, atau mengatakan sesuatu yang salah. Jangan khawatir, karena semuanya bisa diperbaiki.
  10. Buat dia tahu Anda membutuhkannya, Mulailah dengan menyentuh tangannya, membersihkan kemejanya dari sesuatu, atau istirahatkan kaki Anda di pangkuannya. Tanda-tanda kecil semacam ini, akan mengatakan segalanya kepadanya.

SEKIAN

 

 

 





GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KINERJA SEKOLAH ATAU MADRASAH

6 03 2012

A.    PENDAHULUAN

Globalisasi bukan gejala alami tetapi terjadi karena tindakan manusia. Artinya, Ia merupakan hasil perkawinan antara kinerja kekuatan teknologi pada satu sisi dan kekuatan ekonomi pada sisi lain dalam setting hubungan internasional yang begitu menggema selama 25-30 tahun belakangan ini.

Seperti banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan sekolah maupun madrasah.

Dalam mengahadapi kenyataan seperti ini, kita menghadapi dua pilihan antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”.

Saya kira, kita semua memilih yang terakhir ini. Jika demikian halnya maka kita harus memasuki the world systems dengan sadar dan iklas. Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis modernitas seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani modernisasi proses pendidikan. Saya kira, kedua hal ini belum kita pikirkan secara baik di komunitas pendidikan di tanah air hingga saat ini.

B.     PEMBAHASAN

  1. Globalisasi dan pendidikan

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang mana selama ini masih dirasa masih kurang, diantaranya dengan membuat program progaram antara lain “aku anak sekolah” dan dana bantuan operasional. Program tersebut diharapkan mampu menjunjung kualitas maupun kuantitas pendidikan di Indonesia, akantetapi karena pengelolaannya masih terpusat dan kaku, program tersebut tidak dapat memberikan dampak positif. Dugaannya adalah masalah manajemen yang belum sesuai.

Hingga munculah suatu pemikiran atau gagasan baru dalam pengelolaan pendidikan yang memberi kebijakan kepada masing masing sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan dari pemerintah. Pemikiran inilah yang disebut dengan manajemen berbasis sekolah.

Dalam arus globalisasi, ia bukan gejala alami tetapi terjadi karena tindakan manusia. Artinya, Ia merupakan hasil perkawinan antara kinerja kekuatan teknologi pada satu sisi dan kekuatan ekonomi pada sisi lain dalam setting hubungan internasional yang begitu menggema selama 25-30 tahun belakangan ini. Seperti banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya.

Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi pendidikan sekolah. Beberapa contoh watak ambivalensi globalisasi dalam pendidikan sekolah adalah;

  1. Globalisasi menghadirkan pesona “kecepatan” yang akan berlawanan dengan masalah “kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik”.
  2. Globalisasi “menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat” dan “celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat”;
  3. Globalisasi akan “memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) ” tetapi “adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal”; dan
  4. Globalisasi akan “memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global” tetapi “menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah”.

Dilema-dilema seperti itu akan tetap menjadi ciri globalisasi kapan pun. Tugas para guru yang bergerak di lembaga pendidikan sekolah bukan meniadakan dilema, melainkan menyiapkan diri dan anak didik untuk hidup dalam tegangan-tegangan itu.

Secara popular, globalisasi berarti menyebarnya segala sesuatu secara sangat cepat ke seluruh dunia. Globalisasi juga berarti bahwa kerusuhan yang terjadi di suatu tempat tidak dapat disembunyikan karena secara serta-merta diketahui oleh seluruh dunia.

Menurut UU system pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pasal I ayat I menyebutkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembamgkan potensi dirinya untuk memiliki keuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, cakap, kreatif  mandiri, dan menjadi warga Negara yang baik demokratis serta bertanggung jawab. (UUD 45).

  1. Globalisasi Pendidikan

Di era globalisasi dunia pendidikan memiliki persaingan yang sangat ketat dan kuat dalam teknologi, managemen dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi dapat menurunkan pembiayaan produksi, meningkatkan nilai tambah bagi pendidik maupun peserta didik, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu peserta didik.

Sedang keunggulan managemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolahan atau madrasah, dan keunggulan sumberdaya yang memiliki daya saing pada tingkat internasional serta akan daya tawar tersendiri dalam era globalisasi itu.

Dalam menyongsong era globalisasi tersebut, dunia pendidikan harus bisa dan mampu menyuburkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, properubahan (kreatif, inovativ dan eksperimentatif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik.

Dalam mengahadapi kenyataan seperti ini, kita menghadapi dua pilihan antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”. Saya kira, kita semua memilih yang terakhir ini. Jika demikian halnya maka kita harus memasuki the world systems dengan sadar dan iklas. Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis modernitas seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani modernisasi proses pendidikan. (http/Artikel  GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KETIDAKSIAPAN SEKOLAH _ blog untuk anak didikku.htm)

Pendidikan di Indonesia harus memperhatikan perbedaan kecerdasan, kecakapan, bakat dan minat peserta didik. Jadi, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan potensi intelektual, emosional dan spritualnya.

Pendidikan juga harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik itu kebutuhan pribadi atau individu, keluarga maupun kebutuhan lainnya baik lokal, nasional bahkan internasional.

Dalam membedah mutu pendidikan di tanah air hingga hari ini, Mulyasa menjabarkan ada tiga faktor penyebab terjadinya degradasi mutu pendidikan kita selama ini, antara lain; (Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah, 2009, hal.14)

Pertama, strategi pembangunan pendidikan kita selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi belajar) dan kurikulum, penyediaan sarana pendidikan, serta pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan di sekolah manapun di Indonesia ini, akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan.

Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan melalui teori Education Production Function sebagaimana diperkenalkan Hanushek tidak berfungsi efektif di lembaga pendidikan sekolah di daerah manapun di Indonesia. Strategi itu ternyata hanya cocok dipraktikkan pada sektor ekonomi dan industri semata.

Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented, yaitu diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Bahkan, tidak jarang apa yang diproyeksikan di tingkat pusat cenderung menyimpang dari realitas sesungguhnya di sekolah-sekolah. Dengan kata lain, kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan di banyak sekolah seperti; kondisi lingkungan sekolah, bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar, bervariasinya kemampuan guru, serta berbedanya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, seringkali tidak terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi yang melahirkan kebijakan di tingkat makro (pusat).

Ketiga, pada tingkat sekolah sendiri persoalan yang kerap terjadi adalah lemahnya kemampuan kepala sekolah dalam membaca arus global. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak sekali kepala sekolah di negeri ini yang tidak menguasai pengetahuan standar sebagai kepala sekolah seperti; kemampuan manajerial, penguasaan teknik kepemimpinan, menguasai teknologi informasi (komputer, internet), dan sebagainya. Kondisi ini masih terus terjadi lantaran di banyak sekolah, jabatan kepala sekolah tidak jarang dipilih melalui “sistem tunjuk” yang hanya didasarkan pada analisa faktor loyalitas, senioritas, ketokohan, dan kedekatan hubungan, dan mengesampingkan analisa kompetensi pribadi dan kemauan bersaing. Hasil yang kita saksikan adalah kerja kesehariana kepala sekolah cenderung konvensional – yaitu mengedepankan budaya kerja Asal Bapak Senang (ABS), menurut petunjuk, dan sebagainya. Kondisi yang sama kemudian ditiru para guru dari hari ke hari yang kemudian menghasilkan budaya kerja yang jauh panggang dari kompetensi dan professional. Akibat yang kita saksikan dari budaya kerja demikian adalah mutu pendidikan kita secara nasionala terus melorot dari waktu ke waktu dan anak didik kita tidak mampu bersaing secara terbuka di era yang serba kompetitif saat ini.

Dari  tiga hal di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan semata yang harus digarap di tingkat pusat tetapi juga harus terus memperhatikan faktor proses pendidikan itu sendiri di sekolah-sekolah. Input, merupakan hal mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan secara otomatis dapat meningkatkan mutu pendidikan.

2. Kinerja Sekolah

Kinerja sekolah atau yang lebih jelasnya adalah Managemen sekolah dapat diartikan sebagai administrasi, dan pengelolaan. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama.

Gaffar dalam Mulyasa menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik, dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mulyasa memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. (Mulyasa, E. Manajemen, 2009, hal. 24).

Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain:

  1. Perencanaan

Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.

3. Implementasi atau Pelaksanaan

Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

4. Pengawasan

Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan.

5. Pembiayaan

Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dimana dalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat.

Nurkolis mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. Sedang desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal, sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. (Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah Teori…, 2006, hal. 32).

Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional.

Dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu maka diperlukan adanya dukungan dari seluruh sumberdaya pendidikan yang meliputi sarana, keuangan, kurikulum, fasilitas, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Salah satu sumber daya pendidikan yang memiliki peran penting adalah kepala sekolah.

Hali ini dikarenakan kedudukan kepala sekolah sebagai ujung tombak dalam pengelolaan pendidikan yang membawa dan menentukan arah dari sekolah yang dipimpinnya, sesuai dengan PP no39 tahun 2000 tentang tenaga kependidikan bahwa “kepala sekolah adalah salah seorang pengelola satuan pendidikan”.

Depdikbud (Mulyasa, Managemen Berbasis…., 2009, hal.97) menyebutkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai :

  1. Educator dimana kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan disekolahnya.
  2. Manager, artinya kepala sekolah harus mampu memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau kooperatif, memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya.
  3. Administrator artinya kepala sekolaha memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, administrasi personalia, administrasi sarana dan prasarana, kesiapan dan mengelola administrasi keuangan.
  4. Supervisor, artinya kepala sekolah dapat membina tenaga pengajar untuk dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih baik.
  5. Leader, artinya kepala sekolah harus mampu memberikan petunjuk Dn pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas.

Dari pendapat diatas salah satu dari fungsi kepala sekolah yang paling utama adalah sebagai supervisor sangat menentukan dalam membawa sekolah atau madrasah yang dipimpinnya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang bermutu, tentunya hal tersebut dapat direalisasikan dengan baik apabila kepala sekolah memiliki kinerja yang baik sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai supervisor.

Kepala sekolah sebagai supervisor memiliki tugas dan tanggung jawab memajukan proses pembelajaran yang dilaksanakan disekolah serta dalam meningkatkan kemampuan professional guru sekaligus harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. (Suryosubroto, B., Manajemen Pendidikan di Sekolah, 2010. Hal. 37).

  1. Mutu Pendidikan

Dalam pandangan Umaedi mutu dapat diartikan sebagai derajat keunggulan suatu barang dan jasa dibandingkan dengan yang lain. Mutu dalam pendidikan dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat, cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. (Umaedi, dkk., Manajemen…., 2009).

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses,dan output pendidikan. (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ,2002:7) Input pendidikan mengandung arti segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input pendidikan terdiri dari:

  1. Sumber daya, yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dsb).
  2. Perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan,deskripsi tugas, rencana, program dsb .
  3. Harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah .

Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam pendidikan yang berskala mikro (tingkat sekolah), proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajarmengajar, dan proses monitoring dan evaluasi.

Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian, penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning),mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. (Suryosubroto, B., Manajemen Pendidikan di Sekolah, 2010, Hal. 69).

Dalam pelaksanaan pendidikan, kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian, akreditasi sekolah, dana pendidikan, tenaga kependidikan dan lain sebagainya.

Output pendidikan merupakan kinerja sekolah.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efisiensinya, inovasinya, efektivitasnya, produktivitasnya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Di bawah ini indikator-indikator output sekolah yang berkualitas, diantaranya : (http//www.pdfsearch.com/MBS)

  1. Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik, seperti nilai ulangan umum, EBTA, Ujian Akhir Nasional, karya ilmiah, lomba akademik dan lain-lain.
  2. Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik, seperti IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesenian, keterampilan, kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya.

Kerangka sistem pendidikan nasional ada pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, ada yang dikeluarkan oleh pemerintah propinsi, dan ada yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten atau kota.

Berdasar uraian diatas Dapat disimpulkan bahwa, tanggung jawab sekolah semakin besar. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya dan tentunya seluruh hasil ini ditentukan dalam pengelolaanya dan yang mengatur adalah kepala sekolah.

 

KESIMPULAN

 Di era globalisasi dunia pendidikan harus berani dan memiliki daya saing dalam beberapa hal, diantara :

  1. Keunggulan teknologi
  2. Keunggulan managemen
  3. Keunggulan SDM

Oleh sebab itu, kemudian lembaga pendidikan dituntut untuk beroperasi secara professional dan berjalan secara sistematis dimana profesionalitas itu dapat dilihat dari sendi-sendi kinerja lembaga pendidikan yang meliputi perencanaan, implementasi, pengawasan dan pembiayaan.

Dengan adanya hal tersebut maka managemen yang ada dilembaga diharapkan sekolah atau madrasah mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Salah satu pemeran yang paling utama dalam proses kemajuan dan profesionalitas lembaga adalah supervisor dari kelembagaan itu sendiri, tentunya dalam hal ini adalah kepala sekolah, dimana kepala sekolah dituntut utuk mampu memimpin lembaga yang dipegangnya, mengatur, mengarahkan serta membina segala aktifitas langsung yang berhubungan dengan organisasi sekolah baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Pendidikan yang bermutu disebakan oleh karena adanya dukungan yang saling memadai dari seluruh sumber daya pendidikan, diantaranya sarana – prasarana, keuangan, kurikulum, fasilitas dan tenaga pendidik yang memiliki dedikasi tinggi serta professional dalam tugas dan tanggung jawabnya.

Dalam konteks pendidikan yang bermutu mencakup adanya input meliputi ; sumberdaya baik sumberdaya manusianya ataupun media pembelajaran, perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah, serta rencana, program dan tugas. Kemudi adalah proses yang dilakukan dalam merealisasikan perencanaan.

Adapun indicator out-pun yang berkualitas dapat ditinjau dari prestasi belajar peserta didik dalam akademik seperti hasil ulangan umum semester siswa dan Ujian Akhir Negara. Bias juga dilihat dari prestasi non-akademik siswa melalui MTQ, Olah Raga, Kesenian dan aktivitas ekstra kurikuler lainnya.

Daftar Pustaka

  1. Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
  2. UUD 45.
  3. http/Artikel  GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KETIDAKSIAPAN SEKOLAH _ blog untuk anak didikku.htm.
  4. Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
  5. Umaedi, dkk., Manajemen Berbasis Sekolah, Universitas Terbuka, Jakarta, 2009.




PEMIKIRAN PENDIDIKAN AWAL

12 02 2012

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensi bawaan” seperti potensi keimanan, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, dan potensi fisik. Dengan potensi ini manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya serta dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja, agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.
Bukanlah sebuah fakta yang perlu diperdebatkan jika dikatakan bahwa, peradaban yang dibangun Islam adalah peradaban ilmu. Mulai dari ayat suci Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan di muka bumi dan ayat-ayat lain yang turun berikutnya, hingga Sunnah serta sejarah hidup Rasulullah SAW cukup menjadi bukti gamblang bagaimana perhatian Islam terhadap ilmu dan pendidikan sedemikian besar.
Semangat intelektualitas yang membara dan pemahaman yang benar terhadap konsep ilmu yang terwariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW oleh para penerus sejarah umat ini juga telah memunculkan sebuah peradaban besar yang sangat berjasa bagi tumbuh berkembangnya peradaban Barat yang datang kemudian dan biasa kita sebut sebagai perdaban modern.
Modernisasi Barat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan, namun keadaan pendidikan di dunia Islam dalam pandangan Faruqi merupakan fenomena yang terburuk. Dia mensinyalir bahwa pendidikan Barat yang dijiplak di dunia Islam berubah menjadi sebuah karikatur dari prototype Barat. Materi-materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam, hampir secara keseluruhan berkiblat pada Barat, padahal hasil dari jiplakan itu tidak mengandung wawasan yang menyeluruh.
Faruqi berargumen, …materi dan metodologi yang hampa itu terus memberi pengaruh jelak yang mendeislamisasikan siswa, dengan berperan sebagai alternatif-alternatif bagi materi-materi dan metodologi Islam dan sebagai bantuan untuk mencapai kemajuan dan modernisasi. (Faruqi, 1984: 16-17).
Salah satu kritik tajam yang seringkali dialamatkan kepada kondisi pendidikan Islam kontemporer adalah adanya dominasi indoktrinasi dan pendekatan metode belajar-mengajar yang cenderung monolog, serta menonjolnya sikap taqlid yang pasif sehingga dianggap mengabaikan aspek-aspek rasionalitas serta kritisisme dalam proses pendidikan yang berlangsung.

B. RUMUSAN MASALAH
Oleh karena luasnya cakupan pembahasan masalah ini, maka hemat penulis sangat perlu diadakan rumusan tentang bahasan yang akan dikaji dalam makalah ini. Yaitu :
1. Bagaimana doktrin Islam tentang pendidikan ?
2. Seperti apa Filsafat Islam ?
3. Adakah Institusi dalam pendidikan islam awal ?

C. PEMBAHASAN
Istilah pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama dari sudut pandang masyarakat, kedua dari segi pandang individu. (Langgulung, 2000 : 1).
Dari segi pendangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi indiviu pendidikan berarti pegembangan potensi-petensi yang terdalam. Pandangan lainnya adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris kebudayaan dan pengembang potensi-potensi.
Pada pengembangannya pendidikan dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian. Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan berbagai keracunan dari pengertian pendidikan itu sendiri.

1. Doktrin Islam tentang Pendidikan
Hakikatnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan dapat dipastikan bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau. Karena itu, secara ekstrim dapat dikatakan bahwa maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. (Harto, 2002: 89).
J. Adler mengartikan pendidikan sebagai proses dimana semua kemauan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik. (Arifin, 1994: 12).
Bila dilihat dari perspektif Pendidikan Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai khalifatullah fil Ardh yang tetap dalam keadaan menghambakan diri kepada Allah. Hal ini terlihat pada definisi yang diberikan para ahli. Seperti Omar Muhammad al-Toumy al-Syaebani, misalnya mengartikan pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan, perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
Dapat dipahami bahwa pendidikan Islam itu merupakan satu proses yang tidak hanya menyangkut transfer ilmu, akan tetapi bagaimana menjadikan manusia makhluk berakhlak dengan akhlak yang baik serta dari hasil pendidikan itu dapat membantu kehidupan diri dan kemasyarakatannya dengan berlandasan ajaran Islam. Faktor agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan perilaku manusia baik secara individu maupun secara kelompok. Manusia mempunyai kebutuhan keagamaan yang instrinsik, dan tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang mengatasinya serta yang diturunkan dari kekuatan-kekuatan supranatural. (Wahab, 2002: 110).
Pembahasan tentang doktrin Islam tentang pendidikan, penulis mencoba memulainya dari sumber-sumber yang ada dalam Al-quran. Menurut Hasan Langgulung, istilah pendidikan yang dalam bahasa Arab bisa dipergunakan ta’lim sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 31.

Dan Allah mengajarkan Adam segalamacam nama, kemudian Ia berkata kepada malaikat : beritahukan Aku nama-nama semua itu jika kamu benar” (QS. Al-Baqarah : 31)

Di samping kata ta’lim, kata tarbiyah juga dipergunakan untuk pendidikan, seperti yang temuat dalam surat Bani Israil : 24.

… Hai Tuhanku, sangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil.” (QS. Bani Israil : 24).

Para ahli berpendapat bahwa kata ta’lim hanya menrujuk kepada pengajaran, sedangkan kata tarbiyah merujuk pada pendidikan dalam lingkup yang lebih luas lagi. Jadi, kata tarbiyah lebih luas pengertiannya ketimbang kata ta’lim. Lebih jauh lagi, pendidikan dalam pengertian seluas-luasnya muncul dan kemudian berkembang seiring dengan diturunkannya Al-quran kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Wahyu pertama sarat dengan spirit bagaimana usaha-usaha pendidikan dimulai.
Dalam konteks masyarakat Arab, kedatangan Islam merupakan transformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Dari segi historis, salah satu tugas dari Nabi Muhammad adalah melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya. Allah SWT telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, malalui pengajaran, pengenalan, serta dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya. (Azra, 1999 : vii).
Tema pendidikan ini secara implisit dapat dipahami dari wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi sebagai spirit terhadap tugas kependidikan yang pertama dan utama yang dilakukan Nabi.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah demi Tuhanmu yang paling Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Yang mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahui.” (Al-‘Alaq : 1 – 5).

Bertolak dari spirit di atas, Nabi Muammad mulai melaksanakan tugas sebagai pendidik yang dimulai dari lingkungan keluarga dekatnya, kemudian melebar ke wilayah sosial yang lebih luas lagi. Mahmud Yunus, dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam,” menuliskan bahwa pendidikan Islam pada fase ini meliputi empat hal : Pertama, pendidikan kegamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah. Sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jaunya.
Kedua, pendidikan akaliyah dan ilmiah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya. Untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan meyelidiki serta memakai pena untuk mencatat. Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw Mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid. Keempat, pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman. (Zuhairini , 2000 : 18-50)
Oleh karena Al-quran memuat sejumlah dasar umum pendidikan, maka Al-quran sendiri pada prinsipnya dapat dikatakan sebagai pedoman normatif-teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Ayat-ayat yang tertuang dalam Al-quran merupakan prinsip dasar yang kemudian diterjemahkan oleh para ahli menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Secara eksplisit, percakapan dalam Al-quran tentang pendidikan sudah pasti melabar kepada pujian Al-quran terhadap orang-orang beriman dan kepada ilmu-ilmu itu sendiri.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di atara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah : 11)

Pada kenyataanya, struktur dari peradaban Islam, dari semenjak perkembagan Islam paling awal secara keseluruhan berasal dari spirit Al-quran di samping konsep-konsep ilmu yang ada dalam Al-quran. Kemudian prinsip ini dijadikan sebagai Weltanschauung yang melatarbelakangi keberadaan manusia secara global dan diinspirasikan dari era bagaimana konsep ilmu itu didefinisikan. Lebih dari itu, konsep serupa ini memformulasikan model pikiran dan penelitian yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka melihat realitas mengembangkan masyaraka yang tentunya lewat usaha-usaha pendidikan. Konsep ilmu sendiri yang termuat dalam Al-quran seperti dinyatakan Ziaudding Sadar adalah sebuah nilai yang menakala dipahami dengan baik dari bingkai Islam, akan melahirkan sesuatu mengenai konsep Islam itu sendiri. Tidak kurang dari 1200 definisi telah dibuat oleh para ahli dan menjadi tema utama para penulis besar, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Biruni dan Ibnu Khaldun.
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman. ‘Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah : 31).
Di sini dapat dipahami bahwa ayat di atas merupakan kunci ayat yang berkaitan dengan ilmu. Imam al-Gahazali menafsirkan bahwa nama-nama (asma) adalah sejumlah contoh, Ibnu Abbas sendiri menafsirkan bahwa Adam telah diajarkan semua nama yang baik maupun yang buruk. Bagaimanapun ayat di atas juga dapat dipahami dengan pendekatan subjek dengan objeknya. Sebab “penyebutan nama” berkaitan dengan “nama yang disebut” sebagai objeknya. Di sinilah prinsip pendidikan juga berasal, sebab kata asma juga berarti sebagai bentuk ilmu yang dapat dipahami dengan jalan pengajaran (‘allama). Setidaknya, ayat di atas sudah memberikan jalan bagi umat manusia bagaimana ilmu itu dapat diperoleh.
Seperti halnya Al-quran, Sunnah juga memberikan rambu-rambu tentang pentingnya pendidikan. Konsepsi dasar pendidikan yang dicetuskan Nabi Muhammad Saw menurut Muhaimin memiliki enam corak. Pertama, disampaikan sebagai “rahmat li al’alamin yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga makhluk biotik dan abiotik lainnya. Kedua, disampaikan secara universal, mencakup dimensi kehidupan apapun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya. Ketiga, apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak dan keotentikan kebenaran itu terus terjadi. Kempat, kehadiran Nabi sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan terus bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan. Kelima, prilaku Nabi tercermin sebagai uswatun hasanah, yaitu sebuah figur yang meneladeni semua tindak-tanduknya karena prilakunya terkontrol oleh Allah, sehingga hampir tidak pernah melakukan kesalahan. Keenam, masalah teknis-praktis dalam pelaksanaan pendidikan Islam diserahkan penuh pada umat.
Secara sederhana para ahli pendidikan Islam mencoba mengembangkan konsep-konsepnya dari kedua sumber ini, yaitu Al-quran dan Sunnah sebagai dasar ideal pendidikan Islam. Dasar ideal ini kemudian yang menjadi akar pendidikan sebagai sumber nilai kebenaran dan kekuatan. Nilai-nilai yang dipahami dari Al-quran dan Sunnah ini adalah cermin nilai yang universal yang dapat dioprasionalkan ke berbagai sisi kehidupan umat sekaligus sebagai standar nilai dalam mengevaluasi jalannya kegiatan pendidikan Islam. (Azra, 1999 : 7).
Juga dengan jelas dipahami bahwa ilmu sangat tinggi kedudukannya dalam Islam. Untuk mamahami ilmu, manusia dituntut menggunakan pikirannya, belajar dan memahaminya. Dalam pendidikan, ilmu adalah hal yang paling esensial. Pada intinya, pendidikan dalam Islam sangat utama dan penting bagi kehidupan manusia. Dari kedua ajaran islam, Al-quran dan Sunnah, banyak dikemukakan fenomena alam dan sosial yang masih belum terungkap dan menantang umat Islam untuk terus belajar agar mereka giat melakukan pengkajian dan dapat melahirkan ilmu-ilmu baru sebagai hasil dari penafsiran Al-quran dan sunnah.
Seperti ditulis Hanun Asrohah, selain Al-quran dan Sunnah yang secara jelas menyerukan umat Islam untuk belajar, ada empat aspek lain yang mendorong umat Islam untuk senantiasa belajar, sehingga pendidikan selalu menjadi perhatian umat Islam. “Aspek itu adalah bahwa Islam memiliki Al-quran sebagai sumber kehendak Tuhan.” (Asrohah, 1999 : 7). Artinya, motivasi pendidikan secara doktrinal memang sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, sehingga perjalanan umat Islam selalu berpedoman pada kedua sumber ini sebagai ajaran dan sebgai spirit kependidikan sekaligus.
Penting untuk dicatat, bahwa ajaran untuk mencari ilmu pengetahuan dalam semangat doktrin Islam tidak hanya dikhususkan pada ilmu agama saja dalam pengertian yang sempit. Labih dari itu, Islam menganjurkan umatnya menuntut ilmu dalam pengertian yang seluas-luasnya yang mencakup, meminjam istilah al-Ghazali, ilmu syar ‘iyyah dan ilmu ghairu syar ‘iyyah. (Abidin, 1998 : 44-45). Ilmu syar ‘iyya adalah ilmu yang berasal dari para Nabi dan wajib dileluti oleh setiap muslim. Di luar ilmu-ilmu ytang bersumber dari para nabi tersebut, al-Ghazali mengelompokkan ke dalam kategiri ghairu syar ‘iyyah. Lepas dari pengelompokan ilmu yang disebut al-Ghazali, ilmu apapun penting untuk dicapai selama tidak membawa kemadaratan bagi kehidupan manusia dan destruktif.
Karenanya, dalam Islam terdapat hubungan erat antara ilmu-ilmu syar ‘iyyah dengan ilmu-ilmu gharu syar ‘iyyah. Dan sebaliknya, Islam tidak mengenal adanya keterpisahan di antara ilmu-ilmu. Dengan kata lian, Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari Al-quran dan Sunnah maupun pada akal asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yan disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

2. Filsafat pendidikan islam
Pembicaraan diseputar filsafat pendidikan Islam tidak terlapas dari pembicaraan mengenai filsafat dan pendidikan Islam itu sendiri. Filsafat berasal dari kata Yunani: filosofia. Dalam bahasa Yunani kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari filo dan sofia. Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan kerena ingin itu lalu berusaha mencapai yang diingini itu, sedangkan Sofia artinya kebijaksanaan. (Peodjawijatna, 1986 : 2).
Dengan demikian, filsafat berarti ingin mengerti dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan. Bagi Plato, filsafat tidak lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles beranggapan, bahwa keajaiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Sedangkan al-Kindi memberikan pengertian filsafat dengan membaginya ke dalam tiga lapangan ilmu. Pertama, ilmu fisika (‘ilm al-thibiyyat) merupakan tingkatan terendah. Kedua, ilmu matematika (‘ilm al-riyadhi), tingkatan tengah. Ketiga, ilmu ketuhanan (‘ilm al-rububiyah), tingkat tertinggi. Yang pertama menurut Sidi Gazalba adalah tingkatan alam nyata terdiri dari benda-benda konkrit yang dapat ditangkap pnca indra. Yang kedua, berhubungan dengan benda juga, tapi mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka. Dan ketiga, yang tidak berhubungan dengan benda-benda sama sekali, yaitu ketuhanan. (Gazalba, 1990 : 16-20).
Dengan tiga ciri utama berpikir, radikal, sistematis dan universal, (Peodjawijatna, 1986 : 27). Filsafat dimengerti sebagai sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis, dan universal. Sebagai pelengkap pengertian dari filsafat, Hasbullah Bakry menuliskan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal menusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan. (Endang, 1991 : 85).
Sedangkan pendidikan Islam dipahami berangkat dari agama Islam itu sendiri. di samping sebagai agama, Islam juga memiliki pandangan-pandangan mengenai berbagai hal yang menyangkut persoalan manusia dan kemanusiaan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Untuk itu, pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam. Ajaran Islam berarti merujuk pada Al-quran dan Sunnah yang memang diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan.
Al-quran dan al-Kitab yang artinya bacaan dan tulisan. Nama-nama tersebut erat berhubugnan dengan Al-quran. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan jika Salih Abdullah Salih sampai pada suatu kesimpulan bahwa Al-quran adalah Kitab Pendidikan. Demikian pula al-Hadits, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan, Nabi Muhammad Saw telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long lofe education). (Nata, 2001 : 12)
Dari dua kerangka ini muncullah pengertian filsafat pendidikan Islam, yaitu konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. (Nata, 2001 : 13). Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, Mohammad al-Toumy menuliskan bahwa Islam dan kebudayaannya merupakan titik tolak asasi bagi filsafat pendidikan dan pengajaran diberbagai tingkatan dan jenisnya.
Namun demikian, ini tidak menafikan sumber-sumber lain yang menganggap dapat membantu pengkayaan filsafat pendidikan Islam, baik yang bersifat individual, sosial atau tabi’i yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam. Karenanya, filsafat pendidikan Islam mengandung konotasi pada filsafat pendidikan yang mengambil asasnya dari prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Islam. Jadi, filsafat pendidikan Islam berupaya menyusun seperangkat nilai sebagai dasar berpijak dan tujuan yang akan dicapai secara jelas.

3. Institusi pendidikan islam awal
Tahap ini merangkumi pendidikan pada zaman Rasulullah (609-632M) dan para khulafah al-Rasyidih (632-661M). Pertama adalah Dar al-Arqam, Rumah merupakan tempat pendidikan awal yang diperkenalkan ketika Islam mula berkembang di Mekah. Rasulullah menggunakan rumah Arqam bin Abi al-Arqam di al-Safa untuk dijadika sebagai tempat pertemuan dan pengajaran dengan para sahabat (Jalaluddin, 1998; 36). Bilangan kaum Muslim yang hadir pada peringkat awal adalah terlalu kecil, tetapi makin bertambah sehingga menjadi 38 orang yang terdiri daripada golongan bangsawan Quraisy, pedagang dan hamba sahaya. Di Dar al-Arqam, Rasulullah mengajar wahyu yang telah diterimanya kepada kaum Muslim. Rasulullah juga membimbing mereka menghafal, menghayati dan mengamalkan ayat-ayat suci yang diturunkan kepadanya.
Kedua, Masjid ; Fungsi masjid selain tempat ibadat ialah sebagai tempat penyebaran dakwah dan ilmu Islam; tempat menyelesaikan masalah individu dan masyarakat; tempat menerima duta-duta asing; tempat pertemuan pemimpin-pemimpin Islam; tempat bersidang; dan madrasah bagi kanak-kanak mempelajari ilmu agama dan fardu ain. Setelah berhijrah ke Madinah, pendidikan Islam mulai berpusat di masjid-masjid dan terutama di Masjid Quba’. Merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai institusi pendidikan. (http://wikipedia/download/Institusi_Pendidikan_dalam _Islam.htm).
Di dalam masjid, Rasulullah mengajar dan memberi khutbah dalam bentuk halaqah di mana para sahabat duduk mengelilingi Rasulullah untuk mendengar dan bersoaljawab berkaitan urusan agama dan kehidupan sehari-harian. Semakin luas wilayah-wilayah yang ditakluk Islam, semakin meningkat bilangan masjid yang didirikan. Di antara masjid yang dijadikan pusat penyebaran ilmu dan pengetahuan ialah Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Kufah, Masjid Basrah dan banyak lagi.
Tempat berlangsungnya proses pendidikan pada masa awal Islam yang Ketiga, adalah Suffah ; Al-Suffah merupakan ruang atau bangunan surau yang bersambung dengan masjid. Suffah boleh dilihat sebagai sebuah sekolah kerana kegiatan pengajaran dan pembelajaran dilakukan secara teratur dan sistematik. Contohnya Masjid Nabawi yang mempunyai suffah yang digunakan untuk majlis ilmu.
Yang ke keempat, Kuttab ; Ia ditubuhkan oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam lagi dan bertujuan memberi pendidikan kepada kanak-kanak di peringkat rendah. Sungguhpun begitu, institusi tersebut tidak mendapat perhatian dari masyarakat Arab kerana sebelum kedatangan Islam, hanya 17 orang Quraisy yang tahu membaca dan menulis. Kemahiran-kemahiran asas seperti membaca dan munlis dilakukan oleh kebanyakan guru-guru yang mengajar secara sukarela. Selain itu, Rasulullah juga pernah memerintkah tawanan perang Badar yang berkebolehan supaya mengajar 10 orang kanak-kanak Islam sehingga mereka tahu membaca dan menulis sebagai syarat menebus diri.

D. KESIMPULAN
Al-quran dan al-Kitab yang artinya bacaan dan tulisan. Nama-nama tersebut erat berhubugnan dengan Al-quran. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan jika Salih Abdullah Salih sampai pada suatu kesimpulan bahwa Al-quran adalah Kitab Pendidikan. Demikian pula al-Hadits, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan, Nabi Muhammad Saw telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long lofe education). Dari dua kerangka ini muncullah pengertian filsafat pendidikan Islam, yaitu konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.
Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, Mohammad al-Toumy menuliskan bahwa Islam dan kebudayaannya merupakan titik tolak asasi bagi filsafat pendidikan dan pengajaran diberbagai tingkatan dan jenisnya. Namun demikian, ini tidak menafikan sumber-sumber lain yang menganggap dapat membantu pengkayaan filsafat pendidikan Islam, baik yang bersifat individual, sosial atau tabi’i yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam. Jadi, filsafat pendidikan Islam berupaya menyusun seperangkat nilai sebagai dasar berpijak dan tujuan yang akan dicapai secara jelas.
Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari Al-quran dan Sunnah maupun pada akal asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yan disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah. Artinya bahwa pendidikan menurut Islam, merupakan satu proses berterusan untuk merubah, melatih, mendidik akal, jasmani, serta rohani manusia dengan berasaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Islam dan bersumberkan wahyu bagi melahirkan insan yang bertaqwa dan mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. untuk mendapatkan kejayaan di dunia dan akhirat.
Tidak ada agama selain Islam, dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Yusuf Qardhawi (2001: 120) mengingatkan bahwa, ayat Alquran yang pertama ke hati Rasulullah SAW menunjuk pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu denganmemerintahkannya membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan, dan menyebut qalam, alat transformasi ilmu pengetahuan.

E. DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Faruqi, Ismail Raji ; 1984. Islamisasi Pengetahuan, terj.Anas Mahyuddin, Bandung: Pustaka.
2. Langgulung, Hasan ; 2000. Asas-asas Pendidikan Islam, cet.Ke-1, Jakarta : Al-Husna.
3. Harto, Kasinyo, Rekontruksi Pendidikan Islam, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002, hlm. 89.
4. Arifin ; 1994. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
5. Wahab, Rohmalina, Pendidikan Islam dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002.
6. Azra, Azyumardi ; 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium baru, cet.Ke-1, Jakarta : Logos.
7. Zuharini ; 2000. et.al, Sejarah Pendidikan Islam, ket.Ke-6, Jakata : Bumi Aksara.
8. Asrohah, Hanun; 1999. Sejarah Pendidikan Islam, cet.Ke-1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
9. Abidin, Ibnu Rusn ; 1998. Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, cet.Ke-1, Yogyakarta : Pustaka Pajar.
10. Poedjawijatna, I.R ; 1986. Pembimbing Kearah Alam Filsafat, cet.Ke-7, Jakarta : Bina Aksara.
11. Gazalba, Sidi ; 1990. Sistematika Buku Pertama Pengantar Kepada Dunia Filsafat, cet.Ke-5, Jakarta : Bulan Bintang.
12. Endang, Saifuddin Anshari ; 1991. Ilmu, Filsafat dan Agama, cet.Ke-9, Surabaya : PT. Bina Ilmu.
13. Nata, Abuddin ; 2001. Filsafat Pendidikan Islam, cet. Ke-4, Jakarta : Logos.
14. Jalaluddin dan Said, Usman ; 1998. Filsafat Pendidikan Islam dan Perkembangan, cet.Ke-2, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
15. Yusuf al-Qaradlāwi ; 2001. Liqā’āt wa Muhāwarāt Hawla Qadlāya al-Islām wa al-`Ashr, Beirut: Muassasah Al-Risalah.





Hello world!

12 02 2012

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.