PEMIKIRAN PENDIDIKAN AWAL

12 02 2012

A. LATAR BELAKANG
Pendidikan menurut Islam didasarkan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah yaitu dengan membawa “potensi bawaan” seperti potensi keimanan, potensi untuk memikul amanah dan tanggung jawab, potensi kecerdasan, dan potensi fisik. Dengan potensi ini manusia mampu berkembang secara aktif dan interaktif dengan lingkungannya serta dengan bantuan orang lain atau pendidik secara sengaja, agar menjadi manusia muslim yang mampu menjadi khalifah dan mengabdi kepada Allah.
Bukanlah sebuah fakta yang perlu diperdebatkan jika dikatakan bahwa, peradaban yang dibangun Islam adalah peradaban ilmu. Mulai dari ayat suci Al-Qur’an yang pertama kali diturunkan di muka bumi dan ayat-ayat lain yang turun berikutnya, hingga Sunnah serta sejarah hidup Rasulullah SAW cukup menjadi bukti gamblang bagaimana perhatian Islam terhadap ilmu dan pendidikan sedemikian besar.
Semangat intelektualitas yang membara dan pemahaman yang benar terhadap konsep ilmu yang terwariskan dalam Al-Qur’an dan Sunnah Nabi SAW oleh para penerus sejarah umat ini juga telah memunculkan sebuah peradaban besar yang sangat berjasa bagi tumbuh berkembangnya peradaban Barat yang datang kemudian dan biasa kita sebut sebagai perdaban modern.
Modernisasi Barat sangat berpengaruh terhadap kemajuan dunia pendidikan, namun keadaan pendidikan di dunia Islam dalam pandangan Faruqi merupakan fenomena yang terburuk. Dia mensinyalir bahwa pendidikan Barat yang dijiplak di dunia Islam berubah menjadi sebuah karikatur dari prototype Barat. Materi-materi dan metodologi yang kini diajarkan di dunia Islam, hampir secara keseluruhan berkiblat pada Barat, padahal hasil dari jiplakan itu tidak mengandung wawasan yang menyeluruh.
Faruqi berargumen, …materi dan metodologi yang hampa itu terus memberi pengaruh jelak yang mendeislamisasikan siswa, dengan berperan sebagai alternatif-alternatif bagi materi-materi dan metodologi Islam dan sebagai bantuan untuk mencapai kemajuan dan modernisasi. (Faruqi, 1984: 16-17).
Salah satu kritik tajam yang seringkali dialamatkan kepada kondisi pendidikan Islam kontemporer adalah adanya dominasi indoktrinasi dan pendekatan metode belajar-mengajar yang cenderung monolog, serta menonjolnya sikap taqlid yang pasif sehingga dianggap mengabaikan aspek-aspek rasionalitas serta kritisisme dalam proses pendidikan yang berlangsung.

B. RUMUSAN MASALAH
Oleh karena luasnya cakupan pembahasan masalah ini, maka hemat penulis sangat perlu diadakan rumusan tentang bahasan yang akan dikaji dalam makalah ini. Yaitu :
1. Bagaimana doktrin Islam tentang pendidikan ?
2. Seperti apa Filsafat Islam ?
3. Adakah Institusi dalam pendidikan islam awal ?

C. PEMBAHASAN
Istilah pendidikan kerap diartikan secara longgar dan dapat mencakup berbagai persoalan yang luas. Namun demikian, pendidikan sebenarnya dapat ditinjau dari dua segi. Pertama dari sudut pandang masyarakat, kedua dari segi pandang individu. (Langgulung, 2000 : 1).
Dari segi pendangan masyarakat, pendidikan berarti pewaris kebudayaan dari generasi tua kepada generasi muda, agar hidup masyarakat tetap berkelanjutan. Dari segi indiviu pendidikan berarti pegembangan potensi-petensi yang terdalam. Pandangan lainnya adalah pendidikan yang ditinjau dari segi masyarakat dan dari segi individu sekaligus. Dengan kata lain, pendidikan dipandang sebagai sekumpulan pewaris kebudayaan dan pengembang potensi-potensi.
Pada pengembangannya pendidikan dipahami orang tidak hanya dari tiga sudut pandang di atas, bahkan melahirkan teori-teori baru yang tentu saja sangat positif bagi kegiatan pengkajian. Namun, tidak hanya sampai di situ, perkembangan ini pula telah melahirkan berbagai keracunan dari pengertian pendidikan itu sendiri.

1. Doktrin Islam tentang Pendidikan
Hakikatnya, pendidikan merupakan upaya mewariskan nilai, yang akan menjadi penolong dan penuntun umat manusia dalam menjalani kehidupan dan sekaligus untuk memperbaiki nasib dan peradaban umat manusia. Tanpa pendidikan dapat dipastikan bahwa manusia sekarang tidak berbeda dengan generasi manusia masa lampau. Karena itu, secara ekstrim dapat dikatakan bahwa maju mundur atau baik buruknya peradaban suatu masyarakat atau bangsa sangat ditentukan oleh bagaimana proses pendidikan yang dijalani oleh masyarakat bangsa tersebut. (Harto, 2002: 89).
J. Adler mengartikan pendidikan sebagai proses dimana semua kemauan manusia (bakat dan kemampuan yang diperoleh) yang dapat dipengaruhi oleh pembiasaan, disempurnakan dengan kebiasaan-kebiasaan yang baik melalui sarana yang secara artistik dibuat dan dipakai oleh siapapun untuk membantu orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan yaitu kebiasaan yang baik. (Arifin, 1994: 12).
Bila dilihat dari perspektif Pendidikan Islam, pendidikan dapat diartikan sebagai upaya menjadikan manusia sebagai khalifatullah fil Ardh yang tetap dalam keadaan menghambakan diri kepada Allah. Hal ini terlihat pada definisi yang diberikan para ahli. Seperti Omar Muhammad al-Toumy al-Syaebani, misalnya mengartikan pendidikan Islam sebagai usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dalam alam sekitarnya melalui proses kependidikan, perubahan itu dilandasi dengan nilai-nilai Islam.
Dapat dipahami bahwa pendidikan Islam itu merupakan satu proses yang tidak hanya menyangkut transfer ilmu, akan tetapi bagaimana menjadikan manusia makhluk berakhlak dengan akhlak yang baik serta dari hasil pendidikan itu dapat membantu kehidupan diri dan kemasyarakatannya dengan berlandasan ajaran Islam. Faktor agama tampaknya memang tak dapat dipisahkan dari hubungannya dengan perilaku manusia baik secara individu maupun secara kelompok. Manusia mempunyai kebutuhan keagamaan yang instrinsik, dan tidak dapat dijelaskan melalui sesuatu yang mengatasinya serta yang diturunkan dari kekuatan-kekuatan supranatural. (Wahab, 2002: 110).
Pembahasan tentang doktrin Islam tentang pendidikan, penulis mencoba memulainya dari sumber-sumber yang ada dalam Al-quran. Menurut Hasan Langgulung, istilah pendidikan yang dalam bahasa Arab bisa dipergunakan ta’lim sejalan dengan firman Allah dalam surat Al-Baqarah : 31.

Dan Allah mengajarkan Adam segalamacam nama, kemudian Ia berkata kepada malaikat : beritahukan Aku nama-nama semua itu jika kamu benar” (QS. Al-Baqarah : 31)

Di samping kata ta’lim, kata tarbiyah juga dipergunakan untuk pendidikan, seperti yang temuat dalam surat Bani Israil : 24.

… Hai Tuhanku, sangilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu kecil.” (QS. Bani Israil : 24).

Para ahli berpendapat bahwa kata ta’lim hanya menrujuk kepada pengajaran, sedangkan kata tarbiyah merujuk pada pendidikan dalam lingkup yang lebih luas lagi. Jadi, kata tarbiyah lebih luas pengertiannya ketimbang kata ta’lim. Lebih jauh lagi, pendidikan dalam pengertian seluas-luasnya muncul dan kemudian berkembang seiring dengan diturunkannya Al-quran kepada manusia melalui Nabi Muhammad Saw. Wahyu pertama sarat dengan spirit bagaimana usaha-usaha pendidikan dimulai.
Dalam konteks masyarakat Arab, kedatangan Islam merupakan transformasi besar. Sebab, masyarakat Arab pra-Islam pada dasarnya tidak mempunyai sistem pendidikan formal. Dari segi historis, salah satu tugas dari Nabi Muhammad adalah melaksanakan pendidikan Islam terhadap umatnya. Allah SWT telah mendidik dan mempersiapkannya untuk melaksanakan tugas tersebut secara sempurna, malalui pengajaran, pengenalan, serta dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan budayanya. (Azra, 1999 : vii).
Tema pendidikan ini secara implisit dapat dipahami dari wahyu yang pertama diturunkan kepada Nabi sebagai spirit terhadap tugas kependidikan yang pertama dan utama yang dilakukan Nabi.

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Yang menciptakan manusia dari gumpalan darah. Bacalah demi Tuhanmu yang paling Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan kalam. Yang mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahui.” (Al-‘Alaq : 1 – 5).

Bertolak dari spirit di atas, Nabi Muammad mulai melaksanakan tugas sebagai pendidik yang dimulai dari lingkungan keluarga dekatnya, kemudian melebar ke wilayah sosial yang lebih luas lagi. Mahmud Yunus, dalam bukunya “Sejarah Pendidikan Islam,” menuliskan bahwa pendidikan Islam pada fase ini meliputi empat hal : Pertama, pendidikan kegamaan, yaitu hendaklah membaca dengan nama Allah semata-mata, jangan dipersekutukan dengan nama berhala, karena Tuhan itu Maha Besar dan Maha Pemurah. Sebab itu hendaklah dienyahkan berhala itu sejauh-jaunya.
Kedua, pendidikan akaliyah dan ilmiah, yaitu mempelajari kejadian manusia dari segumpal darah dan kejadian alam semesta. Allah akan mengajarkan demikian itu kepada orang-orang yang mau menyelidiki dan membahasnya. Sedangkan mereka dahulu belum mengetahuinya. Untuk mempelajari hal-hal itu haruslah dengan banyak membaca dan meyelidiki serta memakai pena untuk mencatat. Ketiga, pendidikan akhlak dan budi pekerti, Nabi Muhammad Saw Mengajar sahabatnya agar berakhlak baik sesuai dengan ajaran tauhid. Keempat, pendidikan jasmani (kesehatan), yaitu mementingkan kebersihan pakaian, badan dan tempat kediaman. (Zuhairini , 2000 : 18-50)
Oleh karena Al-quran memuat sejumlah dasar umum pendidikan, maka Al-quran sendiri pada prinsipnya dapat dikatakan sebagai pedoman normatif-teoritis dalam pelaksanaan pendidikan Islam. Ayat-ayat yang tertuang dalam Al-quran merupakan prinsip dasar yang kemudian diterjemahkan oleh para ahli menjadi suatu rumusan pendidikan Islam yang dapat mengantarkan pada tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Secara eksplisit, percakapan dalam Al-quran tentang pendidikan sudah pasti melabar kepada pujian Al-quran terhadap orang-orang beriman dan kepada ilmu-ilmu itu sendiri.
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di atara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (Al-Mujadalah : 11)

Pada kenyataanya, struktur dari peradaban Islam, dari semenjak perkembagan Islam paling awal secara keseluruhan berasal dari spirit Al-quran di samping konsep-konsep ilmu yang ada dalam Al-quran. Kemudian prinsip ini dijadikan sebagai Weltanschauung yang melatarbelakangi keberadaan manusia secara global dan diinspirasikan dari era bagaimana konsep ilmu itu didefinisikan. Lebih dari itu, konsep serupa ini memformulasikan model pikiran dan penelitian yang dilakukan oleh umat Islam dalam rangka melihat realitas mengembangkan masyaraka yang tentunya lewat usaha-usaha pendidikan. Konsep ilmu sendiri yang termuat dalam Al-quran seperti dinyatakan Ziaudding Sadar adalah sebuah nilai yang menakala dipahami dengan baik dari bingkai Islam, akan melahirkan sesuatu mengenai konsep Islam itu sendiri. Tidak kurang dari 1200 definisi telah dibuat oleh para ahli dan menjadi tema utama para penulis besar, seperti al-Kindi, al-Farabi, al-Biruni dan Ibnu Khaldun.
“Dan dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman. ‘Sebutkanlah kepadaKu nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah : 31).
Di sini dapat dipahami bahwa ayat di atas merupakan kunci ayat yang berkaitan dengan ilmu. Imam al-Gahazali menafsirkan bahwa nama-nama (asma) adalah sejumlah contoh, Ibnu Abbas sendiri menafsirkan bahwa Adam telah diajarkan semua nama yang baik maupun yang buruk. Bagaimanapun ayat di atas juga dapat dipahami dengan pendekatan subjek dengan objeknya. Sebab “penyebutan nama” berkaitan dengan “nama yang disebut” sebagai objeknya. Di sinilah prinsip pendidikan juga berasal, sebab kata asma juga berarti sebagai bentuk ilmu yang dapat dipahami dengan jalan pengajaran (‘allama). Setidaknya, ayat di atas sudah memberikan jalan bagi umat manusia bagaimana ilmu itu dapat diperoleh.
Seperti halnya Al-quran, Sunnah juga memberikan rambu-rambu tentang pentingnya pendidikan. Konsepsi dasar pendidikan yang dicetuskan Nabi Muhammad Saw menurut Muhaimin memiliki enam corak. Pertama, disampaikan sebagai “rahmat li al’alamin yang ruang lingkupnya tidak hanya sebatas manusia, tetapi juga makhluk biotik dan abiotik lainnya. Kedua, disampaikan secara universal, mencakup dimensi kehidupan apapun yang berguna untuk kegembiraan dan peringatan bagi umatnya. Ketiga, apa yang disampaikan merupakan kebenaran mutlak dan keotentikan kebenaran itu terus terjadi. Kempat, kehadiran Nabi sebagai evaluator yang mampu mengawasi dan terus bertanggung jawab atas aktivitas pendidikan. Kelima, prilaku Nabi tercermin sebagai uswatun hasanah, yaitu sebuah figur yang meneladeni semua tindak-tanduknya karena prilakunya terkontrol oleh Allah, sehingga hampir tidak pernah melakukan kesalahan. Keenam, masalah teknis-praktis dalam pelaksanaan pendidikan Islam diserahkan penuh pada umat.
Secara sederhana para ahli pendidikan Islam mencoba mengembangkan konsep-konsepnya dari kedua sumber ini, yaitu Al-quran dan Sunnah sebagai dasar ideal pendidikan Islam. Dasar ideal ini kemudian yang menjadi akar pendidikan sebagai sumber nilai kebenaran dan kekuatan. Nilai-nilai yang dipahami dari Al-quran dan Sunnah ini adalah cermin nilai yang universal yang dapat dioprasionalkan ke berbagai sisi kehidupan umat sekaligus sebagai standar nilai dalam mengevaluasi jalannya kegiatan pendidikan Islam. (Azra, 1999 : 7).
Juga dengan jelas dipahami bahwa ilmu sangat tinggi kedudukannya dalam Islam. Untuk mamahami ilmu, manusia dituntut menggunakan pikirannya, belajar dan memahaminya. Dalam pendidikan, ilmu adalah hal yang paling esensial. Pada intinya, pendidikan dalam Islam sangat utama dan penting bagi kehidupan manusia. Dari kedua ajaran islam, Al-quran dan Sunnah, banyak dikemukakan fenomena alam dan sosial yang masih belum terungkap dan menantang umat Islam untuk terus belajar agar mereka giat melakukan pengkajian dan dapat melahirkan ilmu-ilmu baru sebagai hasil dari penafsiran Al-quran dan sunnah.
Seperti ditulis Hanun Asrohah, selain Al-quran dan Sunnah yang secara jelas menyerukan umat Islam untuk belajar, ada empat aspek lain yang mendorong umat Islam untuk senantiasa belajar, sehingga pendidikan selalu menjadi perhatian umat Islam. “Aspek itu adalah bahwa Islam memiliki Al-quran sebagai sumber kehendak Tuhan.” (Asrohah, 1999 : 7). Artinya, motivasi pendidikan secara doktrinal memang sudah menjadi bagian dari ajaran Islam, sehingga perjalanan umat Islam selalu berpedoman pada kedua sumber ini sebagai ajaran dan sebgai spirit kependidikan sekaligus.
Penting untuk dicatat, bahwa ajaran untuk mencari ilmu pengetahuan dalam semangat doktrin Islam tidak hanya dikhususkan pada ilmu agama saja dalam pengertian yang sempit. Labih dari itu, Islam menganjurkan umatnya menuntut ilmu dalam pengertian yang seluas-luasnya yang mencakup, meminjam istilah al-Ghazali, ilmu syar ‘iyyah dan ilmu ghairu syar ‘iyyah. (Abidin, 1998 : 44-45). Ilmu syar ‘iyya adalah ilmu yang berasal dari para Nabi dan wajib dileluti oleh setiap muslim. Di luar ilmu-ilmu ytang bersumber dari para nabi tersebut, al-Ghazali mengelompokkan ke dalam kategiri ghairu syar ‘iyyah. Lepas dari pengelompokan ilmu yang disebut al-Ghazali, ilmu apapun penting untuk dicapai selama tidak membawa kemadaratan bagi kehidupan manusia dan destruktif.
Karenanya, dalam Islam terdapat hubungan erat antara ilmu-ilmu syar ‘iyyah dengan ilmu-ilmu gharu syar ‘iyyah. Dan sebaliknya, Islam tidak mengenal adanya keterpisahan di antara ilmu-ilmu. Dengan kata lian, Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari Al-quran dan Sunnah maupun pada akal asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yan disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah.

2. Filsafat pendidikan islam
Pembicaraan diseputar filsafat pendidikan Islam tidak terlapas dari pembicaraan mengenai filsafat dan pendidikan Islam itu sendiri. Filsafat berasal dari kata Yunani: filosofia. Dalam bahasa Yunani kata filosofia itu merupakan kata majemuk yang terdiri dari filo dan sofia. Filo artinya cinta dalam arti yang seluas-luasnya, yaitu ingin dan kerena ingin itu lalu berusaha mencapai yang diingini itu, sedangkan Sofia artinya kebijaksanaan. (Peodjawijatna, 1986 : 2).
Dengan demikian, filsafat berarti ingin mengerti dengan mendalam atau cinta kepada kebijaksanaan. Bagi Plato, filsafat tidak lain daripada pengetahuan tentang segala yang ada. Aristoteles beranggapan, bahwa keajaiban filsafat ialah menyelidiki sebab dan asas segala benda. Sedangkan al-Kindi memberikan pengertian filsafat dengan membaginya ke dalam tiga lapangan ilmu. Pertama, ilmu fisika (‘ilm al-thibiyyat) merupakan tingkatan terendah. Kedua, ilmu matematika (‘ilm al-riyadhi), tingkatan tengah. Ketiga, ilmu ketuhanan (‘ilm al-rububiyah), tingkat tertinggi. Yang pertama menurut Sidi Gazalba adalah tingkatan alam nyata terdiri dari benda-benda konkrit yang dapat ditangkap pnca indra. Yang kedua, berhubungan dengan benda juga, tapi mempunyai wujud tersendiri yang dapat dipastikan dengan angka-angka. Dan ketiga, yang tidak berhubungan dengan benda-benda sama sekali, yaitu ketuhanan. (Gazalba, 1990 : 16-20).
Dengan tiga ciri utama berpikir, radikal, sistematis dan universal, (Peodjawijatna, 1986 : 27). Filsafat dimengerti sebagai sistem kebenaran tentang segala sesuatu yang dipersoalkan sebagai hasil dari berpikir secara radikal, sistematis, dan universal. Sebagai pelengkap pengertian dari filsafat, Hasbullah Bakry menuliskan bahwa filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal menusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan. (Endang, 1991 : 85).
Sedangkan pendidikan Islam dipahami berangkat dari agama Islam itu sendiri. di samping sebagai agama, Islam juga memiliki pandangan-pandangan mengenai berbagai hal yang menyangkut persoalan manusia dan kemanusiaan, termasuk di dalamnya adalah pendidikan. Untuk itu, pendidikan Islam adalah pendidikan yang didasarkan pada ajaran Islam. Ajaran Islam berarti merujuk pada Al-quran dan Sunnah yang memang diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan.
Al-quran dan al-Kitab yang artinya bacaan dan tulisan. Nama-nama tersebut erat berhubugnan dengan Al-quran. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan jika Salih Abdullah Salih sampai pada suatu kesimpulan bahwa Al-quran adalah Kitab Pendidikan. Demikian pula al-Hadits, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan, Nabi Muhammad Saw telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long lofe education). (Nata, 2001 : 12)
Dari dua kerangka ini muncullah pengertian filsafat pendidikan Islam, yaitu konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam. (Nata, 2001 : 13). Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, Mohammad al-Toumy menuliskan bahwa Islam dan kebudayaannya merupakan titik tolak asasi bagi filsafat pendidikan dan pengajaran diberbagai tingkatan dan jenisnya.
Namun demikian, ini tidak menafikan sumber-sumber lain yang menganggap dapat membantu pengkayaan filsafat pendidikan Islam, baik yang bersifat individual, sosial atau tabi’i yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam. Karenanya, filsafat pendidikan Islam mengandung konotasi pada filsafat pendidikan yang mengambil asasnya dari prinsip-prinsip dan ajaran-ajaran Islam. Jadi, filsafat pendidikan Islam berupaya menyusun seperangkat nilai sebagai dasar berpijak dan tujuan yang akan dicapai secara jelas.

3. Institusi pendidikan islam awal
Tahap ini merangkumi pendidikan pada zaman Rasulullah (609-632M) dan para khulafah al-Rasyidih (632-661M). Pertama adalah Dar al-Arqam, Rumah merupakan tempat pendidikan awal yang diperkenalkan ketika Islam mula berkembang di Mekah. Rasulullah menggunakan rumah Arqam bin Abi al-Arqam di al-Safa untuk dijadika sebagai tempat pertemuan dan pengajaran dengan para sahabat (Jalaluddin, 1998; 36). Bilangan kaum Muslim yang hadir pada peringkat awal adalah terlalu kecil, tetapi makin bertambah sehingga menjadi 38 orang yang terdiri daripada golongan bangsawan Quraisy, pedagang dan hamba sahaya. Di Dar al-Arqam, Rasulullah mengajar wahyu yang telah diterimanya kepada kaum Muslim. Rasulullah juga membimbing mereka menghafal, menghayati dan mengamalkan ayat-ayat suci yang diturunkan kepadanya.
Kedua, Masjid ; Fungsi masjid selain tempat ibadat ialah sebagai tempat penyebaran dakwah dan ilmu Islam; tempat menyelesaikan masalah individu dan masyarakat; tempat menerima duta-duta asing; tempat pertemuan pemimpin-pemimpin Islam; tempat bersidang; dan madrasah bagi kanak-kanak mempelajari ilmu agama dan fardu ain. Setelah berhijrah ke Madinah, pendidikan Islam mulai berpusat di masjid-masjid dan terutama di Masjid Quba’. Merupakan masjid pertama yang dijadikan Rasulullah sebagai institusi pendidikan. (http://wikipedia/download/Institusi_Pendidikan_dalam _Islam.htm).
Di dalam masjid, Rasulullah mengajar dan memberi khutbah dalam bentuk halaqah di mana para sahabat duduk mengelilingi Rasulullah untuk mendengar dan bersoaljawab berkaitan urusan agama dan kehidupan sehari-harian. Semakin luas wilayah-wilayah yang ditakluk Islam, semakin meningkat bilangan masjid yang didirikan. Di antara masjid yang dijadikan pusat penyebaran ilmu dan pengetahuan ialah Masjid Nabawi, Masjidil Haram, Masjid Kufah, Masjid Basrah dan banyak lagi.
Tempat berlangsungnya proses pendidikan pada masa awal Islam yang Ketiga, adalah Suffah ; Al-Suffah merupakan ruang atau bangunan surau yang bersambung dengan masjid. Suffah boleh dilihat sebagai sebuah sekolah kerana kegiatan pengajaran dan pembelajaran dilakukan secara teratur dan sistematik. Contohnya Masjid Nabawi yang mempunyai suffah yang digunakan untuk majlis ilmu.
Yang ke keempat, Kuttab ; Ia ditubuhkan oleh orang Arab sebelum kedatangan Islam lagi dan bertujuan memberi pendidikan kepada kanak-kanak di peringkat rendah. Sungguhpun begitu, institusi tersebut tidak mendapat perhatian dari masyarakat Arab kerana sebelum kedatangan Islam, hanya 17 orang Quraisy yang tahu membaca dan menulis. Kemahiran-kemahiran asas seperti membaca dan munlis dilakukan oleh kebanyakan guru-guru yang mengajar secara sukarela. Selain itu, Rasulullah juga pernah memerintkah tawanan perang Badar yang berkebolehan supaya mengajar 10 orang kanak-kanak Islam sehingga mereka tahu membaca dan menulis sebagai syarat menebus diri.

D. KESIMPULAN
Al-quran dan al-Kitab yang artinya bacaan dan tulisan. Nama-nama tersebut erat berhubugnan dengan Al-quran. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan jika Salih Abdullah Salih sampai pada suatu kesimpulan bahwa Al-quran adalah Kitab Pendidikan. Demikian pula al-Hadits, sebagai sumber ajaran Islam, diakui memberikan perhatian yang sangat besar terhadap masalah pendidikan, Nabi Muhammad Saw telah mencanangkan program pendidikan seumur hidup (long lofe education). Dari dua kerangka ini muncullah pengertian filsafat pendidikan Islam, yaitu konsep berpikir tentang pendidikan yang bersumber atau berlandaskan ajaran-ajaran agama Islam tentang hakikat kemampuan manusia untuk dapat dibina dan dikembangkan serta dibimbing menjadi manusia muslim yang seluruh pribadinya dijiwai oleh ajaran Islam.
Dalam kaitannya dengan filsafat pendidikan Islam, Mohammad al-Toumy menuliskan bahwa Islam dan kebudayaannya merupakan titik tolak asasi bagi filsafat pendidikan dan pengajaran diberbagai tingkatan dan jenisnya. Namun demikian, ini tidak menafikan sumber-sumber lain yang menganggap dapat membantu pengkayaan filsafat pendidikan Islam, baik yang bersifat individual, sosial atau tabi’i yang dapat dijadikan rujukan dalam pengembangan filsafat pendidikan Islam. Jadi, filsafat pendidikan Islam berupaya menyusun seperangkat nilai sebagai dasar berpijak dan tujuan yang akan dicapai secara jelas.
Islam menganjurkan agar umatnya mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik yang bersumber dari Al-quran dan Sunnah maupun pada akal asalkan membawa manfaat bagi kehidupan manusia di dunia ini. adanya kategori syar ‘iyyah dan ghair syar ‘iyyah, seperti yan disebut al-Ghazali, tidak dimaksudkan sebagai keterpisahan, sebab bila dipahami secara dikotomi, maka dengan sendirinya akan mendistorsi makma Islam yang universal, sebagai rahmat bagi seluruh alam semesta. Dari ketiga konsep diatas, terlihat hubungan antara tarbiyah, ta’lim dan ta’dib. Ketiga konsep tersebut menunjukkan hubungan teologis (nilai tauhid) dan teleologis (tujuan) dalam pendidikan Islam sesuai al-Qur’an yaitu membentuk akhlak al-karimah. Artinya bahwa pendidikan menurut Islam, merupakan satu proses berterusan untuk merubah, melatih, mendidik akal, jasmani, serta rohani manusia dengan berasaskan pada nilai-nilai yang terkandung dalam Islam dan bersumberkan wahyu bagi melahirkan insan yang bertaqwa dan mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. untuk mendapatkan kejayaan di dunia dan akhirat.
Tidak ada agama selain Islam, dan tidak ada kitab suci selain Alquran yang demikian tinggi menghargai ilmu pengetahuan, mendorong untuk mencarinya, dan memuji orang-orang yang menguasainya. Yusuf Qardhawi (2001: 120) mengingatkan bahwa, ayat Alquran yang pertama ke hati Rasulullah SAW menunjuk pada keutamaan ilmu pengetahuan, yaitu denganmemerintahkannya membaca, sebagai kunci ilmu pengetahuan, dan menyebut qalam, alat transformasi ilmu pengetahuan.

E. DAFTAR PUSTAKA
1. Al-Faruqi, Ismail Raji ; 1984. Islamisasi Pengetahuan, terj.Anas Mahyuddin, Bandung: Pustaka.
2. Langgulung, Hasan ; 2000. Asas-asas Pendidikan Islam, cet.Ke-1, Jakarta : Al-Husna.
3. Harto, Kasinyo, Rekontruksi Pendidikan Islam, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002, hlm. 89.
4. Arifin ; 1994. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta: Bumi Aksara.
5. Wahab, Rohmalina, Pendidikan Islam dan Pengembangan Sumber Daya Manusia, dalam Jurnal Pendidikan Islam Conciencia, No. 2 Volume II, Desember 2002.
6. Azra, Azyumardi ; 1999. Pendidikan Islam Tradisi dan Moderenisasi Menuju Milenium baru, cet.Ke-1, Jakarta : Logos.
7. Zuharini ; 2000. et.al, Sejarah Pendidikan Islam, ket.Ke-6, Jakata : Bumi Aksara.
8. Asrohah, Hanun; 1999. Sejarah Pendidikan Islam, cet.Ke-1, Jakarta: Logos Wacana Ilmu.
9. Abidin, Ibnu Rusn ; 1998. Pemikiran al-Ghazali Tentang Pendidikan, cet.Ke-1, Yogyakarta : Pustaka Pajar.
10. Poedjawijatna, I.R ; 1986. Pembimbing Kearah Alam Filsafat, cet.Ke-7, Jakarta : Bina Aksara.
11. Gazalba, Sidi ; 1990. Sistematika Buku Pertama Pengantar Kepada Dunia Filsafat, cet.Ke-5, Jakarta : Bulan Bintang.
12. Endang, Saifuddin Anshari ; 1991. Ilmu, Filsafat dan Agama, cet.Ke-9, Surabaya : PT. Bina Ilmu.
13. Nata, Abuddin ; 2001. Filsafat Pendidikan Islam, cet. Ke-4, Jakarta : Logos.
14. Jalaluddin dan Said, Usman ; 1998. Filsafat Pendidikan Islam dan Perkembangan, cet.Ke-2, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.
15. Yusuf al-Qaradlāwi ; 2001. Liqā’āt wa Muhāwarāt Hawla Qadlāya al-Islām wa al-`Ashr, Beirut: Muassasah Al-Risalah.


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: