GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KINERJA SEKOLAH ATAU MADRASAH

6 03 2012

A.    PENDAHULUAN

Globalisasi bukan gejala alami tetapi terjadi karena tindakan manusia. Artinya, Ia merupakan hasil perkawinan antara kinerja kekuatan teknologi pada satu sisi dan kekuatan ekonomi pada sisi lain dalam setting hubungan internasional yang begitu menggema selama 25-30 tahun belakangan ini.

Seperti banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya. Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi dunia pendidikan sekolah maupun madrasah.

Dalam mengahadapi kenyataan seperti ini, kita menghadapi dua pilihan antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”.

Saya kira, kita semua memilih yang terakhir ini. Jika demikian halnya maka kita harus memasuki the world systems dengan sadar dan iklas. Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis modernitas seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani modernisasi proses pendidikan. Saya kira, kedua hal ini belum kita pikirkan secara baik di komunitas pendidikan di tanah air hingga saat ini.

B.     PEMBAHASAN

  1. Globalisasi dan pendidikan

Pemerintah Indonesia telah melakukan upaya-upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan yang mana selama ini masih dirasa masih kurang, diantaranya dengan membuat program progaram antara lain “aku anak sekolah” dan dana bantuan operasional. Program tersebut diharapkan mampu menjunjung kualitas maupun kuantitas pendidikan di Indonesia, akantetapi karena pengelolaannya masih terpusat dan kaku, program tersebut tidak dapat memberikan dampak positif. Dugaannya adalah masalah manajemen yang belum sesuai.

Hingga munculah suatu pemikiran atau gagasan baru dalam pengelolaan pendidikan yang memberi kebijakan kepada masing masing sekolah untuk mengatur dan melaksanakan berbagai kebijakan dari pemerintah. Pemikiran inilah yang disebut dengan manajemen berbasis sekolah.

Dalam arus globalisasi, ia bukan gejala alami tetapi terjadi karena tindakan manusia. Artinya, Ia merupakan hasil perkawinan antara kinerja kekuatan teknologi pada satu sisi dan kekuatan ekonomi pada sisi lain dalam setting hubungan internasional yang begitu menggema selama 25-30 tahun belakangan ini. Seperti banyak gejala lain, globalisasi ditandai oleh ambivalensi – yaitu tampak sebagai “berkah” di satu sisi tetapi sekaligus menjadi “kutukan” di sisi lain. Tampak sebagai “kegembiraan” pada satu pihak tetapi sekaligus menjadi “kepedihan” di pihak lainnya.

Ciri ambivalensi seperti ini dalam globalisasi adalah persoalan sentral yang maha penting. Di situ terletak locus problematicus yang menyimpan tantangan besar bagi pendidikan sekolah. Beberapa contoh watak ambivalensi globalisasi dalam pendidikan sekolah adalah;

  1. Globalisasi menghadirkan pesona “kecepatan” yang akan berlawanan dengan masalah “kedangkalan pemahaman pengetahuan pada anak didik”.
  2. Globalisasi “menguntungkan bagi yang berpikir dan bertindak cepat” dan “celaka bagi orang yang berpikir dan bertindak lambat”;
  3. Globalisasi akan “memudahkan membuat hubungan dan mengatasi jarak wilayah (lokalitas) ” tetapi “adanya ketidakpekaan pada akar dan ciri-ciri budaya lokal”; dan
  4. Globalisasi akan “memunculkan potensi menyelesaikan masalah secara cepat pada skala global” tetapi “menjadi beban keluasan lingkup pada skala penyebab masalah”.

Dilema-dilema seperti itu akan tetap menjadi ciri globalisasi kapan pun. Tugas para guru yang bergerak di lembaga pendidikan sekolah bukan meniadakan dilema, melainkan menyiapkan diri dan anak didik untuk hidup dalam tegangan-tegangan itu.

Secara popular, globalisasi berarti menyebarnya segala sesuatu secara sangat cepat ke seluruh dunia. Globalisasi juga berarti bahwa kerusuhan yang terjadi di suatu tempat tidak dapat disembunyikan karena secara serta-merta diketahui oleh seluruh dunia.

Menurut UU system pendidikan Nasional no.20 tahun 2003 pasal I ayat I menyebutkan Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembamgkan potensi dirinya untuk memiliki keuatan sepiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara, cakap, kreatif  mandiri, dan menjadi warga Negara yang baik demokratis serta bertanggung jawab. (UUD 45).

  1. Globalisasi Pendidikan

Di era globalisasi dunia pendidikan memiliki persaingan yang sangat ketat dan kuat dalam teknologi, managemen dan sumberdaya manusia. Keunggulan teknologi dapat menurunkan pembiayaan produksi, meningkatkan nilai tambah bagi pendidik maupun peserta didik, memperluas keragaman produk, dan meningkatkan mutu peserta didik.

Sedang keunggulan managemen dapat mempengaruhi dan menentukan bagus tidaknya kinerja sekolahan atau madrasah, dan keunggulan sumberdaya yang memiliki daya saing pada tingkat internasional serta akan daya tawar tersendiri dalam era globalisasi itu.

Dalam menyongsong era globalisasi tersebut, dunia pendidikan harus bisa dan mampu menyuburkan eksistensi peserta didik seoptimal mungkin melalui fasilitas yang dilaksanakan melalui proses pendidikan yang bermartabat, properubahan (kreatif, inovativ dan eksperimentatif), menumbuhkan dan mengembangkan bakat, minat dan kemampuan peserta didik.

Dalam mengahadapi kenyataan seperti ini, kita menghadapi dua pilihan antara “membiarkan diri terseret oleh proses globalisasi” atau “kita memanfaatkan proses globalisasi untuk meningkatkan kompetensi dan profesionalitas pribadi”. Saya kira, kita semua memilih yang terakhir ini. Jika demikian halnya maka kita harus memasuki the world systems dengan sadar dan iklas. Di samping itu, kita harus pula mendefinisikan dengan jelas, jenis modernitas seperti apa yang akan kita pergunakan sebagai rancangan dasar untuk menjalani modernisasi proses pendidikan. (http/Artikel  GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KETIDAKSIAPAN SEKOLAH _ blog untuk anak didikku.htm)

Pendidikan di Indonesia harus memperhatikan perbedaan kecerdasan, kecakapan, bakat dan minat peserta didik. Jadi, peserta didik harus diberi perlakuan secara maksimal untuk mengaktualkan potensi intelektual, emosional dan spritualnya.

Pendidikan juga harus berfungsi dan relevan dengan kebutuhan, baik itu kebutuhan pribadi atau individu, keluarga maupun kebutuhan lainnya baik lokal, nasional bahkan internasional.

Dalam membedah mutu pendidikan di tanah air hingga hari ini, Mulyasa menjabarkan ada tiga faktor penyebab terjadinya degradasi mutu pendidikan kita selama ini, antara lain; (Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah, 2009, hal.14)

Pertama, strategi pembangunan pendidikan kita selama ini lebih bersifat input oriented. Strategi yang demikian lebih bersandar kepada asumsi bahwa bilamana semua input pendidikan telah dipenuhi, seperti penyediaan buku-buku (materi belajar) dan kurikulum, penyediaan sarana pendidikan, serta pelatihan guru dan tenaga kependidikan lainnya, maka secara otomatis lembaga pendidikan di sekolah manapun di Indonesia ini, akan dapat menghasilkan output (keluaran) yang bermutu sebagaimana yang diharapkan.

Ternyata strategi input-output yang diperkenalkan melalui teori Education Production Function sebagaimana diperkenalkan Hanushek tidak berfungsi efektif di lembaga pendidikan sekolah di daerah manapun di Indonesia. Strategi itu ternyata hanya cocok dipraktikkan pada sektor ekonomi dan industri semata.

Kedua, pengelolaan pendidikan selama ini lebih bersifat macro oriented, yaitu diatur oleh jajaran birokrasi di tingkat pusat. Akibatnya, banyak faktor yang diproyeksikan di tingkat makro tidak berjalan sebagaimana mestinya di tingkat mikro (sekolah). Bahkan, tidak jarang apa yang diproyeksikan di tingkat pusat cenderung menyimpang dari realitas sesungguhnya di sekolah-sekolah. Dengan kata lain, kompleksitas cakupan permasalahan pendidikan di banyak sekolah seperti; kondisi lingkungan sekolah, bervariasinya kebutuhan siswa dalam belajar, bervariasinya kemampuan guru, serta berbedanya aspirasi masyarakat terhadap pendidikan, seringkali tidak terpikirkan secara utuh dan akurat oleh birokrasi yang melahirkan kebijakan di tingkat makro (pusat).

Ketiga, pada tingkat sekolah sendiri persoalan yang kerap terjadi adalah lemahnya kemampuan kepala sekolah dalam membaca arus global. Tidak dapat dipungkiri, masih banyak sekali kepala sekolah di negeri ini yang tidak menguasai pengetahuan standar sebagai kepala sekolah seperti; kemampuan manajerial, penguasaan teknik kepemimpinan, menguasai teknologi informasi (komputer, internet), dan sebagainya. Kondisi ini masih terus terjadi lantaran di banyak sekolah, jabatan kepala sekolah tidak jarang dipilih melalui “sistem tunjuk” yang hanya didasarkan pada analisa faktor loyalitas, senioritas, ketokohan, dan kedekatan hubungan, dan mengesampingkan analisa kompetensi pribadi dan kemauan bersaing. Hasil yang kita saksikan adalah kerja kesehariana kepala sekolah cenderung konvensional – yaitu mengedepankan budaya kerja Asal Bapak Senang (ABS), menurut petunjuk, dan sebagainya. Kondisi yang sama kemudian ditiru para guru dari hari ke hari yang kemudian menghasilkan budaya kerja yang jauh panggang dari kompetensi dan professional. Akibat yang kita saksikan dari budaya kerja demikian adalah mutu pendidikan kita secara nasionala terus melorot dari waktu ke waktu dan anak didik kita tidak mampu bersaing secara terbuka di era yang serba kompetitif saat ini.

Dari  tiga hal di atas memberikan pemahaman kepada kita bahwa pembangunan pendidikan bukan hanya terfokus pada penyediaan faktor input pendidikan semata yang harus digarap di tingkat pusat tetapi juga harus terus memperhatikan faktor proses pendidikan itu sendiri di sekolah-sekolah. Input, merupakan hal mutlak harus ada dalam batas-batas tertentu tetapi tidak menjadi jaminan secara otomatis dapat meningkatkan mutu pendidikan.

2. Kinerja Sekolah

Kinerja sekolah atau yang lebih jelasnya adalah Managemen sekolah dapat diartikan sebagai administrasi, dan pengelolaan. Di berbagai lieteratur dalam fungsi pokoknya acap kali keduanya (manajemen dan administrasi) mempunyai fungsi yang sama.

Gaffar dalam Mulyasa menyatakan bahwa manajemen pendidikan mengandung arti sebagai suatu proses kerja sama yang sistematik, sistemik, dan komperhensif dalam rangka mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mulyasa memberi penjelasan mengenai istilah manajemen yang menurutnya mempunyai arti yang sama dengan pengelolaan. Jika tidak ada manajemen maka tidak mungkin tujuan pendidikan dapat diwujudkan secara optimal, efektif dan efisien. (Mulyasa, E. Manajemen, 2009, hal. 24).

Manajemen atau pengelolaan mempunyai fungsi pokok antara lain:

  1. Perencanaan

Poses yang sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang.

3. Implementasi atau Pelaksanaan

Kegiatan untuk merealisasikan rencana menjadi tindakan nyata dalam rangka mencapai tujuan secara efektif dan efisien.

4. Pengawasan

Upaya untuk mengamati secar sistematis dan berkesinambungan.

5. Pembiayaan

Rangkaian upaya pengendalian secara profesional semua unsur organisasi agar berfungsi sebagaimana mestinya.

Dengan adanya manajemen sekolah diharapkan memberikan kontibusi positif terhadap peningkatan mutu pendidikan. Dimana dalam manajemen sekolah dikenal istilah sentralisasi dan desentralisasi. Sentralisasi berarti terpusat artinya pendidikan diatur secara ketat oleh pemerintah. Sedangkan desentralisasi berarti daerah artinya wewenang peraturan diberikan kepada pemerintah daerah setempat.

Nurkolis mengemukakan bahwa pendekatan sentralistik mempunyai posisi yang sangat strategis dalam mengembangkan kehidupan serta kohesi nasional karena peserta didiknya adalah kelompok ummur yang pedagogik sangat peka terhadap pembentukan kepribadian. Sedang desentralisasi sebagai pelimpahan kekuasaan oleh pusat kepada aparat pengelola pendidikan yang ada di daerah baik di tingkat provinsi maupun lokal, sebagai perpanjangan aparat pusat untuk meningkatkan efesiensi kerja dalam pengelolaan pendidikan di daerah. (Nurkolis, Manajemen Berbasis Sekolah Teori…, 2006, hal. 32).

Jadi pemerintah pusat memberi kepercayaan kepada pemerintah daerah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan potensi yang ada di daerahnya agar tujuan yang telah ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan efisien. Akan tetapi pemerintah pusat tidak lepas tangan begitu saja namun masih ikut serta dalam penyusunan kurikulum pendidikan nasional.

Dalam mewujudkan pendidikan yang bermutu maka diperlukan adanya dukungan dari seluruh sumberdaya pendidikan yang meliputi sarana, keuangan, kurikulum, fasilitas, tenaga pendidik dan tenaga kependidikan lainnya. Salah satu sumber daya pendidikan yang memiliki peran penting adalah kepala sekolah.

Hali ini dikarenakan kedudukan kepala sekolah sebagai ujung tombak dalam pengelolaan pendidikan yang membawa dan menentukan arah dari sekolah yang dipimpinnya, sesuai dengan PP no39 tahun 2000 tentang tenaga kependidikan bahwa “kepala sekolah adalah salah seorang pengelola satuan pendidikan”.

Depdikbud (Mulyasa, Managemen Berbasis…., 2009, hal.97) menyebutkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai :

  1. Educator dimana kepala sekolah harus memiliki strategi yang tepat untuk meningkatkan profesionalisme tenaga kependidikan disekolahnya.
  2. Manager, artinya kepala sekolah harus mampu memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerjasama atau kooperatif, memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya.
  3. Administrator artinya kepala sekolaha memiliki kemampuan untuk mengelola kurikulum, administrasi personalia, administrasi sarana dan prasarana, kesiapan dan mengelola administrasi keuangan.
  4. Supervisor, artinya kepala sekolah dapat membina tenaga pengajar untuk dapat menciptakan suasana belajar mengajar yang lebih baik.
  5. Leader, artinya kepala sekolah harus mampu memberikan petunjuk Dn pengawasan, meningkatkan kemauan tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas.

Dari pendapat diatas salah satu dari fungsi kepala sekolah yang paling utama adalah sebagai supervisor sangat menentukan dalam membawa sekolah atau madrasah yang dipimpinnya untuk mewujudkan proses pembelajaran yang bermutu, tentunya hal tersebut dapat direalisasikan dengan baik apabila kepala sekolah memiliki kinerja yang baik sehingga dapat menjalankan fungsinya sebagai supervisor.

Kepala sekolah sebagai supervisor memiliki tugas dan tanggung jawab memajukan proses pembelajaran yang dilaksanakan disekolah serta dalam meningkatkan kemampuan professional guru sekaligus harus mampu meningkatkan kualitas pembelajaran melalui pembelajaran yang efektif. (Suryosubroto, B., Manajemen Pendidikan di Sekolah, 2010. Hal. 37).

  1. Mutu Pendidikan

Dalam pandangan Umaedi mutu dapat diartikan sebagai derajat keunggulan suatu barang dan jasa dibandingkan dengan yang lain. Mutu dalam pendidikan dapat dilihat dari segi relevansinya dengan keeebutuhan masyarakat, cepat tidaknya lulusan memperoleh pekerjaan yang bergaji besar serta kemampuan seseorang di dalam mengatasi berbagai persoalan hidup. (Umaedi, dkk., Manajemen…., 2009).

Dalam konteks pendidikan, pengertian mutu mencakup input, proses,dan output pendidikan. (Manajemen Peningkatan Mutu Berbasis Sekolah ,2002:7) Input pendidikan mengandung arti segala sesuatu yang harus tersedia karena dibutuhkan untuk berlangsungnya proses. Input pendidikan terdiri dari:

  1. Sumber daya, yang meliputi sumber daya manusia (kepala sekolah, guru, karyawan dan siswa) dan sumber daya selebihnya (peralatan, perlengkapan, uang, bahan dsb).
  2. Perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah, peraturan perundang-undangan,deskripsi tugas, rencana, program dsb .
  3. Harapan-harapan berupa visi, misi, tujuan, dan sasaran-sasaran yang ingin dicapai oleh sekolah .

Proses pendidikan merupakan berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain. Dalam pendidikan yang berskala mikro (tingkat sekolah), proses yang dimaksud adalah proses pengambilan keputusan, proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajarmengajar, dan proses monitoring dan evaluasi.

Proses belajar mengajar memiliki tingkat kepentingan tertinggi dibandingkan dengan lainnya. Proses dikatakan bermutu tinggi apabila pengkoordinasian, penyerasian serta pemaduan input sekolah dilakukan secara harmonis, sehingga mampu menciptakan situasi pembelajaran yang menyenangkan (enjoyable learning),mampu mendorong motivasi danminat belajar dan benar-benar mampu memberdayakan pesertadidik. (Suryosubroto, B., Manajemen Pendidikan di Sekolah, 2010, Hal. 69).

Dalam pelaksanaan pendidikan, kurikulum sekolah harus taat terhadap pasal mengenai kurikulum beserta pedoman pelaksanaannya. Diantara pedoman-pedoman pelaksanaannya antara lain : penilaian, akreditasi sekolah, dana pendidikan, tenaga kependidikan dan lain sebagainya.

Output pendidikan merupakan kinerja sekolah.Kinerja sekolah adalah prestasi sekolah yang dihasilkan dari perilaku sekolah. Kinerja sekolah dapat diukur dari kualitasnya, efisiensinya, inovasinya, efektivitasnya, produktivitasnya, kualitas kehidupan kerjanya dan moral kerjanya. Di bawah ini indikator-indikator output sekolah yang berkualitas, diantaranya : (http//www.pdfsearch.com/MBS)

  1. Jika prestasi belajar siswa menunjukkan pencapaian yang tinggi dalam akademik, seperti nilai ulangan umum, EBTA, Ujian Akhir Nasional, karya ilmiah, lomba akademik dan lain-lain.
  2. Jika sekolah memiliki prestasi yang tinggi dalam hal-hal yang berkaiatan dengan nonakademik, seperti IMTAQ, kejujuran, kesopanan, olah raga, kesenian, keterampilan, kejuruan dan ekstra kurikuler lainnya.

Kerangka sistem pendidikan nasional ada pedoman yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional, ada yang dikeluarkan oleh pemerintah propinsi, dan ada yang dikeluarkan oleh pemerintah kabupaten atau kota.

Berdasar uraian diatas Dapat disimpulkan bahwa, tanggung jawab sekolah semakin besar. Sekolah akan ditagih hasil kerjanya sehubungan dengan kewenangan (otonomi) yang diberikannya dan tentunya seluruh hasil ini ditentukan dalam pengelolaanya dan yang mengatur adalah kepala sekolah.

 

KESIMPULAN

 Di era globalisasi dunia pendidikan harus berani dan memiliki daya saing dalam beberapa hal, diantara :

  1. Keunggulan teknologi
  2. Keunggulan managemen
  3. Keunggulan SDM

Oleh sebab itu, kemudian lembaga pendidikan dituntut untuk beroperasi secara professional dan berjalan secara sistematis dimana profesionalitas itu dapat dilihat dari sendi-sendi kinerja lembaga pendidikan yang meliputi perencanaan, implementasi, pengawasan dan pembiayaan.

Dengan adanya hal tersebut maka managemen yang ada dilembaga diharapkan sekolah atau madrasah mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap peningkatan mutu pendidikan.

Salah satu pemeran yang paling utama dalam proses kemajuan dan profesionalitas lembaga adalah supervisor dari kelembagaan itu sendiri, tentunya dalam hal ini adalah kepala sekolah, dimana kepala sekolah dituntut utuk mampu memimpin lembaga yang dipegangnya, mengatur, mengarahkan serta membina segala aktifitas langsung yang berhubungan dengan organisasi sekolah baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Pendidikan yang bermutu disebakan oleh karena adanya dukungan yang saling memadai dari seluruh sumber daya pendidikan, diantaranya sarana – prasarana, keuangan, kurikulum, fasilitas dan tenaga pendidik yang memiliki dedikasi tinggi serta professional dalam tugas dan tanggung jawabnya.

Dalam konteks pendidikan yang bermutu mencakup adanya input meliputi ; sumberdaya baik sumberdaya manusianya ataupun media pembelajaran, perangkat lunak yang meliputi struktur organisasi sekolah, serta rencana, program dan tugas. Kemudi adalah proses yang dilakukan dalam merealisasikan perencanaan.

Adapun indicator out-pun yang berkualitas dapat ditinjau dari prestasi belajar peserta didik dalam akademik seperti hasil ulangan umum semester siswa dan Ujian Akhir Negara. Bias juga dilihat dari prestasi non-akademik siswa melalui MTQ, Olah Raga, Kesenian dan aktivitas ekstra kurikuler lainnya.

Daftar Pustaka

  1. Mulyasa, E. Manajemen Berbasis Sekolah Konsep, Strategi, dan Implementasi, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2009.
  2. UUD 45.
  3. http/Artikel  GLOBALISASI PENDIDIKAN DAN KETIDAKSIAPAN SEKOLAH _ blog untuk anak didikku.htm.
  4. Suryosubroto, B. Manajemen Pendidikan di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. 2010.
  5. Umaedi, dkk., Manajemen Berbasis Sekolah, Universitas Terbuka, Jakarta, 2009.

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: